Pengamat: Banyak Isu Siap "Ditembakkan" ke Azwar Anas

Foto : Abdullah Azwar Anas


Surabaya (DOC) – Mundurnya Azwar Anas sebagai bakal calon wakil gubernur, adalah pukulan bagi perpaduan relasi tradisional yang harmonis di Jatim. Apalagi, pasangan ini merupakan pasangan calon yang memiliki elektabilitas paling tinggi.
Fajar Ramadlan, dosen Ilmu Politik Universitas Brawijaya mengatakan, pasangan ini sebenarnya merepresentasikan penduduk Jawa Timur yang terbagi menjadi golongan santri dan abangan menurut kategorisasi Indonesianis, Clifford Geertz. Dua aliran ini berjalan beriringan dalam masyarakat, harmonis, dan nyaris tanpa ada gesekan yang menyebabkan perpecahan.
“Perpaduan ini bahkan adalah perpaduan yang saling menguatkan, baik dalam urusan sosial, politik maupun ekonomi. Dalam konteks nasional, santri-abangan adalah cerminan komitmen kebangsaan,” kata Fajar, Selasa (9/1/2018),
Sayang, situasi harmonis tersebut tak sepenuhnya menyenangkan semua pihak. Sinisme terhadap santri dan abangan sejak lama ada. Yang paling tampak dalam konteks waktu saat ini adalah narasi nyinyir baik pada kelompok santri-maupun abangan. Makin memperoleh ruang, dalam momentum pemilihan kepala daerah.
“Tak banyak pihak cukup gembira dengan koalisi PKB-PDIP dan Gus Ipul-Mas Anas. Apalagi, keduanya merepresentasikan kombinasi ideal aliran tradisional Jawa Timur,” ujar Fajar.
Adapun isu yang menyerang Anas, merupakan isu lama. Isu yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan oleh pihak yang memperoleh keuntungan dari situasi seperti saat ini. Seandainya isu ini gagal, maka ada isu lain yang dapat menggoyang pasangan ini.
“Ibarat peluru, masih ada banyak isu lain yang disiapkan dan ditarik pelatuknya kapan pun,” ujarnya.
Politik sejatinya memang dinamis. Ada banyak kemungkinan yang semuanya itu butuh pengelolaan yang strategis. Lebih dari itu, ada narasi yang lebih besar daripada sekedar soal-soal politis.
“Relasi santri-abangan saat ini hendak dipecah, mudah-mudahan tak ada cara-cara kotor lain yang digunakan hanya untuk kepentingan yang sejatinya lebih sempit,” kata Fajar. (bah)