D-ONENEWS.COM

Polrestabes Surabaya Gerak Cepat Lindungi dan Tangani Korban Kekerasan

Surabaya, (DOC) – Naik-turunnya kasus pencabulan anak, kekerasan fisik, perdagangan manusia, hingga pemerkosaan di Kota Surabaya, membuat jajaran Satreskrim Polrestabes Surabaya harus bergerak cepat, terlebih lagi untuk penangan korban kasus tersebut.

Catatan kasus yang ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya selama 3 tahun, yakni 2019-2021 naik-turun. Dengan adanya naik-turunnya kasus ini, Unit PPA yang juga di bawah Satreskrim Polrestabes Surabaya membentuk program baru untuk penanganan pada korban, terlebih lagi korban kasus tersebut anak-anak dan perempuan.

Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Mirzal Maulana menjelaskan, bahwa kepolisian Kota Pahlawan akan lebih menitik beratkan perlindungan pada korban, agar kembali pulih secara psikis.

“Kami lebih kepada perlindungan korban yah. Makanya dengan program pangkas presisi, kami sinergi dengan instansi terkait untuk melindungi korban,” ujar Mirzal, Rabu (19/1/2022).

Pada tahun 2019, kasus KDRT Fisik menjadi paling banyak terjadi, sebanyak 57 kasus disusul persetubuhan anak dengan 43 kasus, Kekerasan Fisik Anak 29, Pencabulan Anak 22, Kekerasan Fisik Dewasa 10, Perdagangan Manusia 10, KDRT Psikis 9, Pemerkosaan 3, Pornografi 1.

Sedangkan tahun 2020, kasus KDRT Fisik 79 kasus, Persetubuhan Anak 53, Pencabulan Anak 27, Kekerasan Fisik Anak 16, Kekerasan Fisik Dewasa 12, Pemerkosaan 7, Perdagangan Orang 6, KDRT Psikis 4, Pornografi 2.

Yang terbaru, pada tahun 2021 masih kasus KDRT Fisik 87 kasus, Pencabulan Anak 30, Persetubuhan Anak 24, Kekerasan Fisik Anak 20, Kekerasan Fisik Dewasa 20, Pornografi 4, KDRT Psikis 3, Perdagangan Manusia 3, Pemerkosaan 2.

Dari 3 tahun terakhir, KDRT Fisik menjadi kasus tertinggi di yang ditangani oleh Unit PPA, ada persetubuhan dan pencabulan anak juga cukup tinggi, serta disusul kekerasan fisik yang dialami oleh anak-anak.

“Atas arahan dari Bapak Kapolrestabes Surabaya ke saya, transformasi penanganan tindak pidana kekerasan seksual dalam rangka perlindungan korban kekerasan seksual di Kota Surabaya menjadi sangat penting,” ungkap Mirzal.

Program ini dirapatkan langsung jajaran Polrestabes Surabaya dengan menghasilkan beberapa poin guna memangkas langsung penanganan Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) di Surabaya, diantaranya pembagian tugas yang jelas antar instansi dalam optimalisasi sinergi penanganan kasus TPKS terhadap perempuan dan anak, baik dalam penanganan korban maupun pelaku dari tahap penyidikan, penuntutan dan peradilan termasuk restitusi terhadap korban.

“Selain itu ada cara agar semua petugas dapat berkoordinasi dengan cepat penanganan TPKS di wilayah hukum Polrestabes Surabaya,” jelasnya.

Selain itu, adanya pembuatan aplikasi program pangkas presisi yang disiapkan nomor khusus penerimaan pengaduaan unit PPA terkoneksi dengan Comment center 110 dan WA Lapor Pak Kapolestabes, guna membuka akses dan kecepatan dalam merespon laporan atau pangaduan masyarakat terkait kasus TPKS di wilayah Surabaya. (ang/fr)

Loading...

baca juga