Berawal Modal Pemkot, Pemuda Kedungdoro Ubah Balai RT Jadi Pabrik Parfum dan Deodoran

Berawal Modal Pemkot, Pemuda Kedungdoro Ubah Balai RT Jadi Pabrik Parfum dan Deodoran
Raihan Syah Rafi produk parfum dan deodoran yang digagas dengan modal dari Pemkot Surabaya. (Foto: Dinkominfo Surabaya)

Surabaya, (DOC) – Daripada sekadar nongkrong atau main game tanpa arah, pemuda di Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya memilih untuk membuktikan diri menjadi pengusaha.

Memanfaatkan bantuan modal dari Pemkot Surabaya, anggota Karang Taruna RW 8 ini sukses mengubah Balai RT setempat menjadi tempat produksi parfum dan deodoran yang kini mendulang omzet jutaan rupiah.

Bacaan Lainnya

Inisiatif ini dirintis oleh Raihan Syah Rafi’ bersama rekan-rekannya. Berawal dari keinginan kuat berbisnis yang terkendala modal, mereka memanfaatkan program Bantuan Dana Gen Z dari Pemkot Surabaya dengan menyusun proposal.

Langkah tersebut membuahkan hasil hingga mereka mengantongi suntikan modal sebesar Rp19,8 juta.

Bukan sekadar coba-coba, racikan produk didasari kajian ilmiah. Untuk menghasilkan deodoran yang aman, tim menyusun formulasi berdasarkan referensi berbagai jurnal ilmiah.

Sementara untuk produk parfum, mereka melakukan eksperimen mandiri hingga berhasil menciptakan empat varian aroma khas.

“Awalnya kami ada ide tapi bingung modalnya. Dana bantuan dari Pemkot Surabaya ini kami maksimalkan untuk membeli bahan baku, peralatan produksi, perlengkapan operasional, hingga perangkat kasir,” ujar Raihan, yang juga menjabat sebagai Ketua Karang Taruna RW 8, Kamis (8/10/2026).

Meski belum memiliki tempat khusus dan memanfaatkan fasilitas Balai RT Kedungdoro, bisnis yang dijalankan oleh enam pemuda ini dikelola secara profesional.

Mereka membagi peran mulai dari tim produksi, pemasaran, hingga keuangan. Karang Taruna setempat juga memberdayakan pemuda sekitar melalui sistem bagi hasil 10 persen dari setiap produk yang terjual.

Hanya dalam waktu dua bulan sejak dipasarkan, brand KDR Parfum dan KDR Deodoran berhasil membukukan omzet sekitar Rp4 juta.

Saat ini, deodoran dipasarkan di kisaran harga Rp13 ribu hingga Rp15 ribu, sedangkan parfum dibanderol mulai Rp55 ribu tergantung ukuran serta aroma.

“Penjualan sejauh ini masih offline lewat jaringan pertemanan dan Karang Taruna. Sekarang kami sedang bersiap masuk ke pasar online agar jangkauannya lebih luas,” kata Raihan.

Baca Juga:  Berikan Bansos untuk MBR, Pemkot Surabaya Anggarkan Lebih dari Rp 3 Miliar

Bagi Raihan, dampak terbesar dari usaha ini adalah terciptanya ruang produktif bagi anak muda di lingkungannya. Bantuan dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Pemkot Surabaya dinilainya berhasil memicu semangat kewirausahaan generasi muda.

“Mumpung masih muda, daripada waktunya dibuat main game atau nongkrong, lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat. Kalau mau bermain, ya main yang ada hasilnya. Kalau nongkrong, membahas sesuatu yang berguna seperti membangun bisnis,” tegas Raihan.

Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada Wali Kota Eri Cahyadi atas dukungan Pemkot Surabaya yang tidak hanya memberikan pemberdayaan, tetapi juga memicu kemandirian ekonomi bagi anak-anak muda di wilayahnya.

Pos terkait