Jakarta (DOC) – Kementerian Kesehatan mencatat ada 283.270 warga menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah di Indonesia.
“Secara kumulatif ini ada 283.270 dengan kasus, terbanyaknya di usia di atas 5 tahun yaitu 219.559 di 7 provinsi, 63 kabupaten/kota,” kata Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Then Suyanti, dikutip Kamis (15/10/2026) .
Then merinci, Kalimantan Selatan mencatat kasus ISPA terbanyak, yakni 74.636 kasus. Posisi berikutnya ditempati Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus.
Hingga saat ini, sebanyak 3.897 kasus ISPA masih tercatat di wilayah terdampak karhutla. Menurut Then, asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun yang dapat mengganggu kesehatan. Paparan asap dapat memicu ISPA dengan gejala batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan.
Selain itu, asap dapat memperburuk asma, memicu penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menyebabkan iritasi mata dan kulit. Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Dampak paparan asap juga dapat meluas ke sistem kardiovaskular, termasuk meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke serta tekanan darah, terutama pada kelompok rentan.
“Tentunya kita harus menjaga kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, kemudian penderita asma, PPOK, maupun pekerja di luar ruangan,” kata Then.
Kementerian Kesehatan mengutamakan langkah pencegahan dan pemantauan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat karhutla.
Then mengatakan, pemerintah memantau kasus ISPA, pneumonia, asma, serta iritasi mata dan kulit. Pemantauan juga mencakup ketersediaan obat dan bahan medis habis pakai (BMHP), serta kapasitas pelayanan puskesmas dan rumah sakit.
Selain itu, Kemenkes memantau kualitas udara di dalam ruangan melalui data yang dihimpun dinas kesehatan dan puskesmas. Pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui perubahan kualitas udara di setiap wilayah. (rd)