
Surabaya, (DOC) – Kemudahan akses keuangan digital bak pisau bermata dua bagi generasi muda. Di satu sisi, transaksi finansial menjadi sangat praktis.
Namun di sisi lain, ancaman belanja impulsif, pinjaman online (pinjol) ilegal, hingga judi online kini makin mengintai dan berpotensi merusak masa depan finansial Generasi Z.
Peringatan tegas ini disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Farid Azhar Nasution, saat memberikan kuliah umum di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Jumat (16/10/2026).
Farid menyoroti fenomena memprihatinkan terkait persepsi finansial di kalangan anak muda saat ini.
Mengutip data Bloomberg, sebanyak 52 persen responden mengaku pernah mengalihkan dana investasinya ke taruhan olahraga (sport betting).
Yang lebih mengkhawatirkan, 26 persen di antaranya bahkan menganggap aktivitas spekulatif tersebut sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
“Temuan ini menjadi sinyal bahaya. Mahasiswa harus bisa membedakan mana pengelolaan keuangan yang terencana dan mana aktivitas berisiko tinggi yang dapat menghancurkan kestabilan finansial,” tegas Farid.
Kondisi tersebut tecermin dari data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.
Meski tingkat inklusi keuangan Indonesia sudah mencapai 93,6 persen artinya masyarakat mudah mengakses layanan finansial via smartphone tingkat literasi keuangannya baru berada di angka 69,5 persen.
Gap ini menunjukkan bahwa kemudahan akses belum diimbangi dengan pemahaman risiko yang memadai.
Untuk membendung risiko bahaya finansial digital, Farid mendorong para mahasiswa UNESA membangun benteng pertahanan keuangan sejak dini melalui kebiasaan menabung yang terstruktur.
Ia menekankan pentingnya memegang prinsip “sisihkan, bukan sisakan”. Artinya, alokasi tabungan langsung dipotong di awal begitu menerima uang, bukan menunggu dana sisa setelah memenuhi semua keinginan.
“Tabungan itu tidak sekadar nominal uang, tetapi juga proses melatih karakter, mengendalikan pengeluaran, dan menyiapkan dana darurat. Bekal masa depan Anda adalah pengetahuan, karakter, dan relasi positif,” tambahnya.
Perkuat Edukasi Lewat Kolaborasi LPS dan UNESA
Sebagai langkah nyata memperkuat pemahaman finansial di lingkungan akademis, LPS dan UNESA resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada acara yang sama.
Kerja sama ini mencakup pengembangan kompetensi mahasiswa dan dosen, riset, hingga sosialisasi fungsi serta kewenangan LPS dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Melalui kolaborasi ini, mahasiswa diharapkan tak hanya cakap secara akademik, tetapi juga tangguh dan cerdas dalam mengelola keuangan pribadi di era digital.





