
Surabaya, (DOC) – Ratusan massa yang mengatasnamakan gerakan Surabaya Sadar menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, pada Kamis (22/10/2026) sore.
Aksi yang berlangsung mulai pukul 14.50 WIB hingga 17.05 WIB tersebut diikuti sekitar 300 peserta di bawah koordinasi Daniel, yang juga menjabat sebagai Menteri Sosial Politik (Menteri Sospol) BEM Universitas Airlangga (Unair).
Koordinator aksi, Daniel, menyatakan bahwa kehadiran ratusan demonstran di garis perlawanan tersebut dipicu oleh keprihatinan atas berbagai persoalan bangsa, mulai dari isu lingkungan, hukum, hingga kesejahteraan rakyat.
“Hari ini Jawa Timur kembali menjadi saksi. Kawan-kawan hadir di sini karena ibu pertiwi sedang memanggil, hukum telah dikebiri, alam dieksploitasi, dan hak-hak rakyat kecil terus diinjak-injak oleh keserakahan penguasa,” ujar Daniel dalam orasinya di depan Gedung Negara Grahadi.
Dalam aksi tersebut, massa Surabaya Sadar menyampaikan empat tuntutan utama kepada pemerintah, yakni:
1. Menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional serta menjadikan bencana lainnya sebagai prioritas penanganan pemerintah.
2. Menuntut pemerintah segera mengatasi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).
3. Mendesak kepemimpinan Prabowo–Gibran untuk mundur dari jabatannya.
4. Mendorong penegakan supremasi sipil.
Sejak pukul 15.00 WIB, massa aksi secara bergantian menyampaikan orasi politiknya. Selain menyoroti lambatnya penanganan musibah karhutla di Kalimantan yang dinilai luput dari perhatian serius pemerintah, orator aksi juga mengecam korporasi yang mengeksploitasi alam demi kepentingan oligarki.
Massa menuntut penghentian total eksploitasi lingkungan, pencabutan izin usaha korporasi perusak lingkungan, serta pengembalian fungsi hutan menjadi hutan lindung.
Tak hanya isu lingkungan, massa juga mengkritik implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka menyoroti adanya dugaan kasus keracunan yang dialami oleh sejumlah siswa penerima manfaat.
“Bagaimana mungkin Generasi Emas bisa terwujud jika keselamatan dan kesehatan anak-anak justru dipertaruhkan?. Dugaan kasus keracunan siswa harus menjadi peringatan keras dan evaluasi menyeluruh bagi pemerintah,” tegas salah satu orator.
Di akhir orasi, massa mendesak pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo untuk fokus pada solusi nyata terkait kondisi ekonomi masyarakat bawah yang kini tertekan akibat melonjaknya harga kebutuhan pokok dan turunnya daya beli.
Aksi unjuk rasa yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut berjalan relatif aman dan tertib hingga massa membubarkan diri pada pukul 17.05 WIB.




