
Surabaya, (DOC) – Tragedi memilukan yang menimpa seorang anak penyandang disabilitas hingga meninggal dunia akibat dugaan perundungan (bullying) menuai perhatian serius Pemkot Surabaya.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi evaluasi mendalam, khususnya terkait peran vital orang tua dalam mendampingi dan membangun komunikasi erat dengan anak.
Eri menyampaikan, Pemkot Surabaya bergerak cepat memberikan pendampingan psikologis mendalam kepada keluarga korban. Di saat yang sama, koordinasi intensif bersama pihak kepolisian terus dilakukan untuk mengawal penanganan anak yang diduga terlibat.
“Pendampingan tetap kami lakukan, dan kami juga sudah berkoordinasi dengan kepolisian agar proses ini ditindaklanjuti sesuai hasil pemeriksaan. Terduga pelaku masih berusia di bawah 12 tahun, sehingga kondisi psikologisnya harus dipastikan terlebih dahulu melalui pemeriksaan yang sedang berjalan. Penanganan selanjutnya akan disesuaikan setelah hasil keluar,” tegas Wali Kota Eri, Selasa (20/10/2026).
Eri menekankan pentingnya pendekatan yang amat hati-hati mengingat kasus ini melibatkan anak di bawah umur. Pemkot memastikan hak-hak pendampingan hukum dan psikologis bagi seluruh pihak terkait berjalan secara beriringan.
Lebih dari sekadar proses hukum, Eri mengajak seluruh orang tua di Surabaya menjadikan tragedi ini sebagai alarm keras. Ia mengingatkan bahwa pengawasan anak tidak cukup hanya dengan mencukupi kebutuhan materi harian semata.
“Kalau kita ingin membangun kota dan negara, semuanya harus dimulai dari keluarga. Orang tua harus hadir, tahu keseharian anak, mendengarkan cerita mereka, dan memberikan pendidikan moral yang baik. Jangan sampai komunikasi di dalam rumah justru makin jauh,” tuturnya.
Menurutnya, perhatian, arahan, dan ruang aman untuk bercerita sangat penting agar orang tua sensitif terhadap perubahan perilaku maupun masalah pergaulan yang dihadapi anak sehari-hari.
“Ini menjadi pembelajaran mendalam bagi saya pribadi dan seluruh orang tua. Mari kita lebih mendekatkan diri kepada anak-anak kita. Pendidikan pertama itu dari keluarga bagaimana kita membangun komunikasi, memberi contoh, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan,” pungkas Eri.





