Lawan Potensi Bencana, Tri Rismaharini Beberkan Jurus 3C dan Pentingnya Aksi Nyata Sebelum Banjir Datang

Lawan Potensi Bencana, Risma Beberkan Jurus 3C dan Pentingnya Aksi Nyata Sebelum Banjir Datang
Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana, Tri Rismaharini. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC) — Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana, Tri Rismaharini, menegaskan pentingnya pergeseran paradigma dalam menghadapi ancaman bencana di Indonesia.

Menurutnya, kesiapsiagaan dan langkah mitigasi wajib dilakukan jauh sebelum bencana melanda, bukan saat musibah sudah terjadi.

Bacaan Lainnya

Mengingat hampir seluruh wilayah Indonesia menyimpan potensi risiko bencana, Risma mengajak masyarakat dan pemerintah untuk tidak menunggu hingga penanganan darurat tiba.

“Kalau kita nanganinya saat banjir, saat hujan, ya sudah terlambat. Jadi harus sebelum itu, preparation-nya juga harus siap,” tegas Risma, Selasa (20/10/2026).

Risma mencontohkan, momentum musim kemarau seharusnya dimanfaatkan secara maksimal untuk aksi cegah banjir.

Langkah konkrit sederhana seperti pengerukan saluran air, pembersihan tumpukan sampah, hingga kerja bakti massal bersama warga menjadi kunci vital dalam menekan risiko bencana saat musim hujan tiba.

“Kita ngeruk saluran, kita perbaiki sampah-sampah yang ada di saluran, perbaiki ini dengan masyarakat kerja-kerja bakti,” ujarnya.

Strategi 3C: Konservasi, Komunitas, dan Komunikasi

Untuk memperkuat ketahanan masyarakat, Risma mendorong penerapan pendekatan 3C yang digagas DPP PDI Perjuangan, yaitu Konservasi, Komunitas, dan Komunikasi. Pendekatan ini menjadi fondasi utama dalam mengajak warga merawat lingkungan secara gotong royong.

“Jadi kita bersama-sama, kita selesaikan masalah itu. Karena kalau kita bersama-sama, makanya kita akan saling jaga,” tutur mantan Menteri Sosial tersebut.

Ia mengingatkan, mitigasi tidak akan berdampak maksimal jika perilaku merusak lingkungan masih terjadi. Gerakan ini sejalan dengan program Merawat Bumi Pertiwi milik PDI Perjuangan, yang salah satu aksi nyatanya diwujudkan melalui penanaman mangrove dan pemberdayaan masyarakat pesisir di Malang Selatan.

Bagi Risma, konservasi adalah benteng pertahanan utama dalam menjaga ketahanan warga dari ancaman alam.

Penanganan Berbasis Data Ilmiah

Tak hanya soal pencegahan, Risma juga menyoroti penanganan dampak bencana khususnya terkait dugaan pencemaran lingkungan yang mengancam kesehatan warga.

Baca Juga:  Untuk Fasum, Wali Kota Tri Risma Minta Warganya Mutasikan Nopol Kendaraan

Risma menekankan bahwa penanganan di lapangan harus berbasis kajian ilmiah yang akurat, mulai dari uji kualitas air, identifikasi jenis polutan, hingga pemeriksaan medis menyeluruh.

“Kalau makin lama, itu makin membuat kondisi masyarakat turunan kualitas hidupnya,” kata Risma.

Ia mengimbau seluruh elemen pemerintah, swasta, tokoh masyarakat, relawan, hingga warga untuk berkolaborasi sesuai kapasitas masing-masing.

Sinergi dan kerja sama lintas sektor ini dinilai sangat krusial agar seluruh tahapan, mulai dari mitigasi, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana, berjalan terencana demi melindungi kualitas hidup masyarakat.

Pos terkait