
Surabaya, (DOC) – Di sebuah sudut Kota Surabaya, Dwi menyapu peluh di dahinya. Setiap hari, wanita ini berjuang sendirian menjadi tulang punggung keluarga, mengandalkan penghasilan Rp45.000 sehari dari menjaga kantin. Dari rupiah demi rupiah itulah ia memberi makan anak-anaknya.
Namun, roda kehidupan terasa memburu terlalu kencang. Saat sang putri, Aisyah, menginjak kelas 2 SMP di SMP Kawung 2, langkahnya terpaksa terhenti. Biaya sekolah tak lagi terjangkau.
Keinginan untuk pindah ke sekolah yang lebih murah pun kandas di tengah jalan – berkas administrasinya tersendancat karena tunggakan lama yang belum usai.
“Aku juga ingin sekolah. Tapi kalau tidak bisa, mau bagaimana lagi? Ibu sudah berusaha,” tutur Aisyah perlahan.
Melihat keponakannya terancam kehilangan masa depan, Rahayu, tante Aisyah, tak tinggal diam. Keberanian membawanya mengetuk pintu keadilan kota lewat pesan singkat (direct message) ke Hotline Lapor Cak Eri.
“Saya cuma ingin dia sekolah supaya tidak seperti orang tuanya. Zaman seperti ini, kalau tidak sekolah mau kerja apa,” ucap Rahayu dengan mata berkaca-kaca.
Sebuah Ketukan Pintu dan Angin Segar
Aduan sederhana itu tak bertepuk sebelah tangan. Tanpa perantara berbelit, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi datang langsung mengetuk pintu rumah Aisyah.
Kedatangan orang nomor satu di Surabaya itu bukan sekadar formalitas, melainkan membawa jawaban atas doa-doa yang terpanjat.
Mendengar langsung lika-liku administrasi dan himpitan ekonomi keluarga tersebut, Eri Cahyadi langsung bergerak.
Ia menghubungi sekolah-sekolah terkait dan memastikan Aisyah bisa kembali mengenyam pendidikan di sebuah SMP di kawasan Krembangan secara gratis, memanfaatkan Bantuan Operasional Pendidikan Daerah (BOPDA).
Tak berhenti di situ, komitmen panjang pun terucap. Pemkot Surabaya berjanji akan mendampingi langkah Aisyah—bukan hanya sampai lulus SMP atau SMA, tapi hingga ia melangkah ke bangku perguruan tinggi.
“Yang semangat sekolahnya. Aisyah ini adalah contoh agar tidak ada lagi anak cucu kita di Surabaya yang tidak bisa sekolah. Surabaya bisa maju di tangan mereka,” tegas Eri Cahyadi penuh hangat seraya menyuntikkan semangat kepada Aisyah.
Kini, kecemasan yang dulu menggelayut di mata Aisyah berganti dengan rasa syukur dan harapan baru. Bantuan ini tak sekadar membukakan pintu kelas baginya, melainkan menyalakan kembali cita-cita yang sempat padam.
“Alhamdulillah dibantu Pak Eri tadi. Semoga nanti aku bisa membantu menyekolahkan adik-adik juga,” ujar Aisyah dengan senyum yang kembali mengembang.
Langkah kecil Aisyah kembali ke sekolah hari ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah riuk pikuk Kota Surabaya, selalu ada ruang untuk kepedulian.
Tak boleh ada lagi anak yang mimpinya terenggut hanya karena persoalan biaya, sebab di tangan merekalah masa depan kota ini digantungkan.





