Surabaya,(DOC) – Jumat malam, 29 Agustus 2025, menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Intan (34), warga Gubeng Kertajaya, Surabaya. Usai bekerja, ia berniat pulang dengan rute biasa melewati Jalan Gemblongan – Cak Durasim – Ngemplak – Kantor Wali Kota Surabaya. Namun, siapa sangka perjalanan pulangnya berubah penuh ketegangan.
Saat melintas di depan Kantor Wali Kota Surabaya, Intan mendapati jalan sudah di tutup. Puluhan petugas gabungan berjaga dengan penuh kewaspadaan. Suasana tidak seperti biasanya.
“Perasaan saya campur aduk. Saya perempuan sendirian naik mobil malam-malam, tiba-tiba jalan di tutup. Deg-degan sekali,” ujar Intan saat menceritakan kisahnya, Rabu (3/9/2025).
Di tengah kebingungan itu, ia melihat Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Spontan, Intan mendekat dan menjelaskan bahwa rumahnya berada di tengah kota. Ia bahkan menunjukkan identitas diri agar lebih meyakinkan.
Wali Kota Eri menjelaskan bahwa akses ke arah rumah Intan tidak aman karena tengah dipenuhi demonstran yang ricuh dengan aparat.
“Pak Wali bilang situasinya tidak kondusif, banyak demonstran di jalan menuju rumah saya,” tutur Intan.
Perasaan takut Intan semakin memuncak. Apalagi, saat mencoba menghubungi keluarganya, panggilan telepon tak kunjung di angkat.
Wali Kota Eri pun memberi saran agar Intan beristirahat sementara di rumah dinas hingga kondisi mereda.
“Hubungi orang tua dan beritahu kalau istirahat di sini, supaya tidak khawatir,” kata Eri seperti di tirukan Intan.
Ucapan itu membuat Intan tak kuasa menahan tangis.
“Saya jawab, saya sudah tidak punya orang tua, Pak,” ucapnya tersedu.
Hampir bersamaan, suara dentuman gas air mata terdengar dari luar, menambah suasana semakin mencekam. Intan pun segera memarkir mobil dan masuk ke rumah dinas.
Ditampung Tiga Jam di Rumah Dinas
Di dalam rumah dinas, Intan di temani istri Wali Kota, Rini Indriyani, serta putri mereka. “Saya di tenangkan, di beri air mineral. Perasaan saya jadi lebih lega,” katanya.
Ia beristirahat di ruang tunggu rumah dinas selama sekitar tiga setengah jam, menunggu kondisi di luar mereda. Namun hingga pukul 01.30 WIB, situasi belum juga aman.
Akhirnya, ajudan Wali Kota mengantar Intan pulang naik motor, sementara mobilnya di tinggalkan di rumah dinas. “Baru keesokan paginya, Sabtu (30/8/2025), saya ambil mobil lagi,” ujar Intan.
Bagi Intan, pengalaman itu menjadi malam yang penuh ketegangan, tapi juga menyisakan rasa syukur. Di tengah situasi mencekam, ia mendapat perlindungan dari orang nomor satu di Kota Surabaya.
“Kalau mengingat malam itu, rasanya campur aduk antara takut, tegang, tapi juga lega karena di tolong,” pungkasnya. (r6)





