Cuaca Menyengat dan Bahaya PM2.5, DLH Jatim: Kualitas Udara Tidak Baik-Baik Saja

Cuaca Menyengat dan Bahaya PM2.5, DLH Jatim: Kualitas Udara Tidak Baik-Baik Saja
Ilustrasi cuaca panas Jawa Timur. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC) – Cuaca terik yang belakangan ini dirasakan masyarakat Jawa Timur bukan sekadar fenomena harian biasa.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur menegaskan, peningkatan suhu ekstrem ini menjadi peringatan atas melonjaknya emisi karbon serta penurunan kualitas udara yang mulai mengancam kesehatan masyarakat.

Bacaan Lainnya

Ketua Tim Kerja Pengendalian Pencemaran Tanah dan Udara DLH Jatim, Anjarwati, mengungkapkan bahwa penumpukan emisi Karbon Dioksida (CO_2) akibat aktivitas kendaraan bermotor, industri, serta alih fungsi lahan hutan telah merusak keseimbangan alami atmosfer.

Dampaknya, panas terperangkap di bumi dan memicu fenomena pemanasan global.“Semakin banyak CO_2 yang dihasilkan, keseimbangan tadi menjadi tidak seperti dulu lagi,” kata Anjarwati, Rabu (21/10/2026).

Ancaman Partikel Halus PM2.5 Tembus Paru-Paru dan Darah

Tak hanya persoalan suhu udara yang kian menyengat, DLH Jatim memberi perhatian serius terhadap ancaman pencemar udara tak kasatmata, yakni partikulat halus PM2.5 (debik berukuran 2,5 mikrometer atau kurang).

Ukurannya yang amat kecil membuat partikel berbahaya ini berpotensi lolos dari penyaring alami hidung.

“Partikulat itu debu, ukurannya macam-macam. Ada yang ukurannya 2,5 mikron. Makanya itu sangat berbahaya ketika dia masuk ke hidung kita, sampai masuk ke paru-paru, kemudian ke saluran darah,” tegas Anjarwati.

Kualitas Udara Jatim Berstatus Sedang, Konsentrasi Debu Lampaui Batas Aman

Berdasarkan data DLH Jatim, Indeks Kualitas Udara (IKU) di Jawa Timur saat ini berada di angka 74,45atau masuk dalam kategori sedang, dengan fluktuasi konsentrasi partikulat antara 8 hingga 120 mikrogram per meter kubik.

Namun, tingkat konsentrasi harian yang kerap melampaui rata-rata 15 mikrogram per meter kubik menjadi indikator bahwa udara yang dihirup masyarakat Jawa Timur sedang dalam kondisi rawan.

“Dengan fluktuasi udara kita yang rata-rata itu kebanyakan di atas 15, artinya memang kita tidak baik-baik saja terkait dengan debu itu tadi,” ujarnya.

Baca Juga:  Diundang Pengajian di Lamongan, Cagub Risma Disambati Masalah Ketersediaan Air Bersih

DLH Jatim mengimbau masyarakat untuk mewaspadai perubahan kualitas udara dan cuaca ekstrem ini dengan tetap menjaga perlindungan diri.

“Sementara pemerintah terus mendorong efisiensi pengurangan emisi, perluasan tutupan hijau, dan pengendalian pencemaran industri demi menekan dampak buruk perubahan iklim,” pungkasnya.

Pos terkait