Bandar Lampung,(DOC) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung gelaran Misi Dagang dan Investasi antara Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Lampung yang berlangsung di Swiss-Belhotel, Kota Bandar Lampung. Hasilnya mencatat nilai transaksi final sebesar Rp1,05 triliun, meningkat tajam di banding tahun sebelumnya yang hanya Rp285,52 miliar.
“Ini adalah hasil dari sinergi, kepercayaan, dan komitmen antarwilayah untuk mendukung produk dalam negeri. Jawa Timur akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lewat penguatan pasar domestik,” ujar Khofifah.
Produk unggulan dari Jatim yang banyak di minati dalam forum ini antara lain rokok, kopi, gula merah tebu, seafood, anak ayam petelur (DOC & Pullet), ternak sapi, liquid brown sugar, benih hortikultura, mesin las, dan rempah seperti jahe.
Sementara itu, Lampung tampil sebagai lumbung bahan baku dengan komoditas seperti rajungan kupas, karet lumb, udang vaname, pangasius, arang batok kelapa, dan jagung.
“Misi dagang ini bukan sekadar jual beli. Ini ikhtiar bersama membangun ekosistem ekonomi antarprovinsi dan membuka peluang investasi yang lebih luas,” tambah Khofifah.
Hubungan Dagang Jatim-Lampung
Khofifah juga menyoroti hubungan dagang Jatim-Lampung yang selama ini sudah kuat. Tercatat dalam perdagangan antarwilayah tahun 2022, total nilai perdagangan dua provinsi ini mencapai Rp13,06 triliun, dengan Jatim mencatat surplus perdagangan sebesar Rp11,03 triliun terhadap Lampung.
“Data ini memperlihatkan bahwa produk Jatim memiliki daya saing tinggi dan sekaligus menunjukkan ketergantungan industri Jawa terhadap pasokan bahan baku dari Sumatera,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa untuk mendukung arus perdagangan yang lebih efisien, konektivitas logistik antarprovinsi harus di tingkatkan, termasuk pengaturan muatan pulang-pergi agar biaya logistik bisa di tekan.
10 Transaksi Terbesar dalam Misi Dagang Jatim–Lampung:
- Perumda Perkebunan Kahyangan Jember menjual kopi ke PT Rempah Alam Nusantara Semesta Lampung – Rp180 miliar
- Gapero Surabaya menjual rokok ke Eratel Prima Lampung – Rp175 miliar
- Gapero Surabaya menjual rokok ke PT KTBG/TPSM Lampung – Rp152,75 miliar
- PT Bumi Menara Internusa Surabaya membeli rajungan dari Yahya Supplier Rajungan Lampung – Rp124,25 miliar
- Poktan Tunas Harapan Kediri menjual gula merah ke CV Rizki Abadi Lampung – Rp77,76 miliar
- Rum Seafood Sidoarjo menjual aneka seafood ke Berkah Keluarga Nagaraya Lampung – Rp54 miliar
- PT Sapta Karya Megah Jombang menjual DOC & pullet ke PT Sumber Protein Unggul Lampung – Rp42,5 miliar
- Perumda Perkebunan Kahyangan Jember membeli karet dari UPPB Maju Mulya Lampung – Rp41,25 miliar
- Rum Seafood Sidoarjo membeli udang & pangasius dari PT Bima Harapan Panca Utama – Rp28,5 miliar
- Koperasi Pasar Turi/CV Laris Berkah Surabaya menjual sapi ke PT Indo Prima Beef Lampung – Rp27 miliar
Misi Dagang
Khofifah menekankan bahwa Misi Dagang tak hanya soal transaksi, melainkan instrumen strategis dalam memperkuat rantai pasok nasional dan membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Ini adalah bentuk konkret bagaimana daerah saling menguatkan. Kita ingin memperluas akses pasar, memperkuat konektivitas, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang merata,” tegasnya.
Sementara itu, Gubernur Lampung Mirzani Djauzal menyatakan bahwa Jatim adalah mitra strategis, terutama dalam hilirisasi komoditas pertanian. Ia berharap Jatim bisa terus mendukung pasokan bibit unggul, khususnya jagung, untuk memperkuat produksi pangan Lampung.
“Jatim sudah terbukti sebagai sentra pertanian dan industrialisasi. Kami harap bisa terus di suplai bibit unggul untuk meningkatkan hasil produksi di Lampung,” ujar Mirzani.
Sebagai informasi, ini merupakan misi dagang domestik ke-6 yang di gelar Pemprov Jatim sepanjang 2025. Sejak 2019, total 41 misi dagang dalam negeri telah di laksanakan dengan nilai transaksi mencapai Rp14,68 triliun. Selain itu, ekspansi luar negeri juga di lakukan ke Jepang, Malaysia, Arab Saudi, Timor Leste, dan Hongkong, dengan potensi transaksi sekitar Rp1,6 triliun. (r6)





