
Lumajang, (DOC) — Warga Desa Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berbondong-bondong mendatangi lokasi penyaluran bantuan air bersih dengan membawa jeriken dan galon.
Bantuan tersebut menjadi andalan warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari di tengah krisis air bersih yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.
Pantauan d-onenews, di lokasi penyaluran, warga mengantre untuk mendapatkan air bersih yang dialirkan melalui pipa dari mobil polisi yang membawa tandon berkapasitas 1.200 liter. Air kemudian ditampung ke dalam jeriken dan galon milik warga untuk dibawa pulang.
Bantuan air bersih itu disambut antusias oleh warga. Pasalnya, pasokan yang datang hanya satu atau dua kali dalam sepekan, bahkan terkadang warga harus menunggu hampir satu minggu untuk mendapatkan bantuan.
Dalam waktu kurang dari satu jam, air bersih yang disalurkan pun habis.
Salah seorang warga Desa Gucialit, Isma, mengatakan, selama krisis air bersih, warga mengandalkan bantuan dari pemerintah desa dan Pemerintah Kabupaten Lumajang. Bantuan dari kepolisian juga membantu warga memenuhi kebutuhan air di tengah musim kemarau.
“Untuk beberapa hari ini, bantuan air bersih datang seminggu dua kali atau seminggu sekali,” ujar Isma.
Menurut Isma, air bersih yang diperoleh dari bantuan digunakan untuk kebutuhan pokok, seperti minum, memasak, dan mencuci piring.
Sementara itu, untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian, warga harus mencari sumber air lain karena persediaan air bersih di desa mereka terbatas.
Isma menuturkan, warga terkadang harus pergi ke wilayah lain untuk mendapatkan air. Salah satu lokasi yang dituju adalah Desa Pakel, yang masih memiliki sumber air mengalir.
Jarak dari Desa Gucialit ke Desa Pakel sekitar dua kilometer. Untuk mengambil air, Isma menggunakan sepeda motor dengan membawa tiga hingga empat jeriken dalam sekali perjalanan.
“Kalau tidak ada air bersih, kami mencari air ke Desa Pakel. Di sana masih ada air dari sumber yang mengalir,” kata Isma.
Tak hanya mengambil air dari desa tetangga, warga juga harus menempuh perjalanan sekitar lima kilometer untuk mandi dan mencuci pakaian.
Kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan tenaga dan waktu lebih banyak demi memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Selain itu, ketika bantuan tidak kunjung datang, warga terpaksa membeli air bersih dari tangki air. Pengeluaran tambahan ini menjadi beban tersendiri bagi masyarakat yang tengah menghadapi keterbatasan pasokan air.
Meski demikian, Isma mengaku bersyukur atas bantuan air bersih yang disalurkan oleh Polres Lumajang.
“Alhamdulillah, kami sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih dari polisi,” tuturnya.
Kasi Humas Polres Lumajang, Ipda Suprapto, mengatakan, penyaluran bantuan air bersih tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air selama musim kemarau.
Menurut dia, bantuan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga, terutama untuk keperluan sehari-hari.
“Kami berharap bantuan ini bisa bermanfaat untuk mengurangi kesulitan warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih,” pungkasnya.





