
Lumajang, (DOC) – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mulai berdampak pada aktivitas pengangkutan tebu.
Sejumlah sopir truk terpaksa mengantre berjam-jam, bahkan berkeliling ke beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk mendapatkan solar.
Antrean tersebut bahkan sempat meluber ke tepi jalan dan menyebabkan arus lalu lintas terganggu sekitar satu jam sebelumnya.
Ahmad, salah seorang sopir truk pengangkut tebu asal Desa Bodang, Kecamatan Padang, mengatakan antrean panjang untuk mendapatkan solar telah berlangsung selama dua hari terakhir.
Menurut dia, kondisi di SPBU Sukodono saat itu memang mulai membaik dibandingkan sebelumnya. Namun, antrean kendaraan masih cukup panjang dan waktu tunggu pengisian belum dapat dipastikan.
“Saya sudah antre lebih dari satu jam, tetapi truk baru masuk di pinggir halaman SPBU. Masih harus menunggu giliran untuk mengisi solar,” kata Ahmad, Senin (19/10/2026).
Ia mengaku telah mendatangi tujuh SPBU di sejumlah wilayah Lumajang, mulai dari Kecamatan Tempursari hingga Jatiroto.
Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena solar tidak tersedia di beberapa SPBU yang didatanginya.
SPBU Sukodono akhirnya menjadi lokasi ketujuh yang didatangi Ahmad sebelum mendapatkan kesempatan mengisi BBM bersubsidi tersebut.
“Antrean panjang seperti ini sudah terjadi selama dua hari. Di beberapa SPBU lain, stok solar tidak ada. Ini SPBU ketujuh yang saya datangi, jadi meskipun harus menunggu lama, tetap saya tunggu,” ujarnya.
Kelangkaan solar tidak hanya menyita waktu para sopir, tetapi juga menghambat distribusi tebu menuju pabrik gula di Malang.
Ahmad menjelaskan, keterlambatan memperoleh bahan bakar membuat truk tidak bisa beroperasi sesuai jadwal. Akibatnya, pengiriman tebu yang biasanya dilakukan setiap hari menjadi tertunda.
Ia biasanya mengangkut satu rit tebu ke Malang dalam sehari. Namun, selama mengalami kesulitan mendapatkan solar, jadwal pengiriman menjadi berantakan.
“Biasanya sehari bisa satu rit. Kalau bisa mengisi solar sekitar pukul 12.00 WIB, pengiriman masih bisa dilakukan. Kalau antreannya sampai seperti ini, kemungkinan besok tidak bisa mengirim tebu,” tuturnya.
Ahmad mengatakan, dalam tiga hari terakhir, truk yang dikemudikannya hanya mampu melakukan satu kali pengiriman. Padahal, dalam kondisi normal, ia dapat mengangkut tebu setiap hari.
Kondisi tersebut membuat pendapatannya sebagai sopir ikut berkurang. Ia menyebut ongkos yang diterimanya untuk satu kali pengiriman tebu mencapai Rp 300.000.
Karena dua rit pengiriman tidak terlaksana, Ahmad memperkirakan kehilangan pendapatan sekitar Rp 600.000.
“Karena kehilangan dua rit, pendapatan saya berkurang sekitar Rp 600.000,” katanya.
Dampak keterlambatan pengiriman juga dirasakan pemilik usaha atau juragan tebu. Menurut Ahmad, nilai kerugian yang ditanggung pemilik usaha jauh lebih besar dibandingkan pendapatan sopir yang hilang.
Setiap satu rit pengiriman tebu ke Malang, nilai uang yang berkaitan dengan hasil pengiriman tersebut diperkirakan mencapai Rp 6 juta hingga Rp 7 juta.
Ketika pengiriman tertunda, tebu tidak segera masuk ke pabrik sehingga proses pembayaran kepada pemilik usaha ikut terhambat.
“Uangnya bisa sekitar Rp 6 juta sampai Rp 7 juta per rit. Itu untuk petani atau juragan tebu,” pungkas Ahmad.





