Surabaya,(DOC) – Komitmen menjaga kualitas dan profesionalisme perangkat pertandingan terus di perkuat. Komite Sepak Bola Mini Indonesia (KSMI) membuat gebrakan dengan menggelar coaching pemantapan bagi para wasit yang memimpin dan terjun langsung di kompetisi mini soccer. Kegiatan ini berlangsung di Lap Mini Soccer By Arena Kenjeran.
Langkah ini di lakukan sebagai bentuk keseriusan KSMI dalam meningkatkan standar kepemimpinan wasit di lapangan, sekaligus menjawab tantangan dinamika permainan mini soccer yang semakin cepat dan kompetitif.
Wakil Ketua Umum KSMI, Purwadi, menegaskan bahwa kualitas kompetisi tidak akan pernah lepas dari kualitas wasit.
“Mini soccer berkembang sangat pesat.
Intensitas pertandingan tinggi dan ritmenya cepat. Wasit harus benar-benar paham regulasi dan berani mengambil keputusan. Coaching ini bukan formalitas, tapi bentuk tanggung jawab kami menjaga marwah kompetisi,” tegas Purwadi.
Ia menambahkan, KSMI ingin memastikan setiap wasit yang turun ke lapangan memiliki standar yang sama dalam memimpin pertandingan.
“Kami ingin ada keseragaman pemahaman. Tidak boleh ada perbedaan tafsir aturan yang bisa memicu kontroversi. Wasit harus tegas, adil, dan profesional,” imbuhnya.
Sementara itu, Wahyu selaku Ketua Pelaksana menjelaskan bahwa coaching pemantapan ini di rancang dengan pendekatan teori dan praktik langsung.
“Kami tidak hanya memberikan materi di kelas, tapi juga simulasi dan evaluasi langsung di lapangan. Wasit di uji bagaimana membaca permainan, positioning, hingga pengambilan keputusan di momen krusial,” jelas Wahyu.
Menurutnya, pemantapan ini akan menjadi agenda berkelanjutan agar kualitas perangkat pertandingan terus meningkat.
“Target kami jelas, setiap pertandingan mini soccer berjalan tertib, minim protes, dan menjunjung tinggi sportivitas. Profesionalisme wasit adalah fondasi utama,” tandasnya.
Dengan di gelarnya coaching di Lap Mini Soccer By Arena Kenjeran, KSMI menunjukkan keseriusan membangun ekosistem mini soccer yang sehat, berintegritas, dan semakin berkelas. Gebrakan ini menjadi sinyal kuat bahwa kualitas kompetisi tidak hanya di ukur dari jumlah turnamen, tetapi juga dari mutu perangkat pertandingan yang memimpin di lapangan. (r6)





