Surabaya,(DOC) – Ekonomi Jawa Timur menunjukkan performa mengesankan pada kuartal kedua tahun ini. Secara quarter-to-quarter (q-to-q), pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 3,09 persen. Angka ini merupakan tertinggi di Pulau Jawa, dan melampaui Jawa Barat (2,33%), Jawa Tengah (1,87%), dan DKI Jakarta (1,60%).
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyambut capaian ini dengan optimisme. Ia menyebut pertumbuhan tersebut sebagai hasil kerja keras dan konsistensi dalam mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Pertumbuhan ekonomi Jatim tertinggi se-Jawa dan melampaui nasional,” ujarnya di Gedung Negara Grahadi, Rabu (6/8).
Secara year-on-year (y-o-y), ekonomi Jatim tumbuh 5,23 persen. Sementara secara cumulative to cumulative (c-to-c) tercatat sebesar 5,12 persen. Keduanya lebih tinggi dibanding rata-rata nasional, yang masing-masing berada di angka 5,12 persen dan 4,99 persen.
Menurut Khofifah, tren positif ini mencerminkan keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi. Ia menegaskan, pertumbuhan bukan sekadar angka, tapi juga mencerminkan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Secara struktur, ekonomi Jatim ditopang tiga sektor utama: industri pengolahan (31,25%), perdagangan (18,44%), dan pertanian (10,87%). Kontribusi Jatim terhadap ekonomi Pulau Jawa mencapai 25,36 persen, sekaligus menjadi penyumbang terbesar kedua secara nasional, yaitu 14,44 persen.
Menariknya, sektor pertanian mencatat pertumbuhan tertinggi pada kuartal ini. Secara q-to-q, sektor ini tumbuh 16,53 persen. Lonjakan tersebut dipicu musim panen tebu serta puncak masa tangkap ikan laut.
“Ini mempertegas posisi strategis Jatim sebagai lumbung pangan nasional,” kata Khofifah.
Penguatan Sejumlah Sektor
Ia menambahkan, pemerintah provinsi terus memperkuat sektor pertanian melalui berbagai program. Di antaranya bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta peluncuran Kredit Usaha Rakyat Khusus (KURsus) Klaster Petani Tebu bersama PT SGN.
Program KUR khusus ini menjadi proyek percontohan nasional. Tujuannya adalah memberi akses modal bagi petani tebu yang sebelumnya kesulitan akibat limitasi KUR konvensional.
Selain pertanian, pertumbuhan ekonomi Jatim juga ditopang oleh faktor musiman. Antara lain pelaksanaan ibadah haji, libur keagamaan, libur sekolah, serta meningkatnya ekspor dan kunjungan wisatawan mancanegara.
Dari sisi pengeluaran, komponen dengan pertumbuhan tertinggi adalah konsumsi pemerintah, yakni sebesar 16,42 persen. Hal ini terdorong oleh pencairan gaji ke-13 dan tunjangan hari raya pada bulan April.
Meski begitu, stabilitas harga tetap menjadi perhatian. Pada semester I 2025, tingkat inflasi Jawa Timur tercatat 0,43 persen (month-to-month), 1,32 persen (year-to-date), dan 2,02 persen (year-on-year). Angka ini masih dalam batas wajar, meski sedikit lebih tinggi dari rata-rata nasional.
“Kita akan terus memantau berbagai faktor yang berpotensi memicu inflasi,” ujar Khofifah.
Menutup pernyataannya, Gubernur Khofifah menggarisbawahi pentingnya kolaborasi. Menurutnya, capaian ini bukan semata hasil kerja Pemprov, tetapi juga kontribusi banyak pihak yang menjaga Jawa Timur tetap kondusif dan produktif.
“Mari terus jaga kondusifitas dan semangat gotong royong agar ekonomi Jatim terus tumbuh kuat,” tutupnya. (r6)





