
Surabaya, (DOC) – Pemkot Surabaya terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan secara merata dan berkeadilan.
Salah satu langkah konkrit yang dilakukan adalah dengan memperkuat kapasitas para pendidik melalui pelatihan bertajuk “Sapa Inklusi PAUD 2026” yang digelar di Auditorium Lantai 9 Gedung W1, Kampus UNESA Lidah Wetan, Surabaya, Selasa (14/10/2026).
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari pada 14, 19, dan 20 Oktober 2026 ini diinisiasi Pemkot Surabaya bersama Bunda PAUD Kota Surabaya dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA),
Kegiatan ini dirancang khusus untuk membekali ratusan guru PAUD dengan keterampilan mendeteksi, mengasuh, serta mengajar anak-anak berkebutuhan khusus secara profesional.
Bunda PAUD Kota Surabaya, Rini Indriyani, menegaskan bahwa kualitas pendidikan anak usia dini tidak boleh membeda-bedakan latar belakang maupun kondisi fisik dan mental anak.
Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru dalam penanganan anak inklusi menjadi hal fundamental yang harus diwujudkan.
“Setiap anak berhak mendapatkan pelayanan dan kualitas pendidikan yang sama dari semua usia. Melalui pelatihan ini, kita persiapkan para guru agar memiliki pemahaman serta metodologi yang tepat dalam mendampingi anak-anak istimewa,” ujar Bunda Rini saat membuka acara.
Ia menambahkan, keterbatasan kemampuan pendidik dalam memahami kebutuhan anak inklusi sering kali menjadi hambatan utama dalam menciptakan ruang belajar yang ideal.
Oleh sebab itu, program Training of Trainers (TOT) ini diharapkan dapat diserap dengan baik oleh peserta pelatihan untuk kemudian ditularkan kepada puluhan ribu guru PAUD lainnya di Surabaya.
“Terapkan apa yang sudah didapatkan selama pelatihan ini untuk memberikan pendidikan terbaik di satuan pendidikan masing-masing. Dengan begitu, pemerataan kualitas pendidikan inklusif bisa benar-benar terwujud di Kota Surabaya,” lanjutnya.
Kualitas SDM Dimulai dari Pendidikan Usia Dini
Sementara itu, Wakil Rektor 1 Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni UNESA, Martadi, menekankan bahwa kualitas pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM) sebuah kota sangat ditentukan dari jenjang paling dasar, yaitu PAUD. Peningkatan kapasitas guru inklusi merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan Kota Pahlawan.
“Surabaya tidak memiliki tambang emas, tetapi Surabaya memiliki SDM. Kota ini akan bangkit dan menjadi besar jika SDM-nya bermutu, dan peningkatan mutu itu harus dimulai sejak PAUD. Sekolah inklusi bukan sekadar menerima semua anak, melainkan memastikan setiap anak mendapatkan hak belajar yang berkualitas dan berpartisipasi secara bermakna,” tegas Martadi.
Sebagai bagian dari dukungan terhadap peningkatan mutu pendidik, UNESA juga berkomitmen membuka peluang beasiswa studi lanjut S2 hingga S3 bagi para Bunda PAUD, serta menerjunkan mahasiswa dari Pusat Unggulan Disabilitas dan Prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB) ke lembaga-lembaga PAUD untuk mempercepat transfer pengetahuan (transfer of knowledge).





