13 RS di Surabaya Tutup Sementara Layanan IGD, Ini Daftarnya

Surabaya (DOC) – Belasan rumah sakit (RS) di Kota Surabaya, Jawa Timur, menutup sementara layanan instalasi gawat darurat atau IGD lantaran kapasitasnya sudah penuh oleh pasien yang terpapar Covid-19.

Bacaan Lainnya

Belasan RS yang dikabarkan menutup sementara IGD-nya itu yakni, RSI Jemursari, RSI Ahmad Yani, RS Royal, RS Wiyung Sejahtera, RS PHC, RS Adi Husada Undaan Wetan, RS Adi Husada Kapasari, RS Premier, National Hospital, RS Al – Irsyad, RS Gotong Royong, RS RKZ dan RS William Booth.

Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Jatim, dr Dodo Anondo mengonfirmasi informasi tersebut. Ia menyatakan sejumlah RS tersebut menutup sementara IGD secara dinamis atau dengan sistem buka-tutup.

“Memang betul RS-RS itu menutup sementara [IGD-nya]. Perlu digaris bawahi menutup sementara, artinya kami sistemnya buka tutup secara dinamis,” kata Dodo, dikutip dari CNN Indonesia, Senin (5/7).

Dodo mengatakan IGD RS-RS itu mengalami full capacity, lantaran pasien Covid-19 terus berdatangan. Sehingga RS pun tak bisa menampung lagi kedatangan pasien.

“Sekarang pasien di IGD itu berlebihan yang datang, semua ingin ditangani oleh RS. Karena orang-orang sering datang tanpa rujukan puskesmas, karena memang penyakit ini memang cukup cepat penularanya, dan cepat infeksinya,” ucap dia.

Pasien secara terus menerus berdatangan, sementara RS kini mengalami kekurangan tenaga kesehatan (nakes). Jumlah dokter, perawat hingga petugas administrasi di RS terus berkurang, karena mereka terpapar Covid-19.

“Kami juga memikirkan tenaga kesehatannya, tenaga kesehatannya kita tahu bahwa sekarang ini banyak nakes yang terpapar, juga harus masuk rumah sakit, diopname, kemudian juga ada yang belum sembuh ada juga cukup banyak yang meninggal,” ucap dia.

“Katakanlah 10 pasien tapi tenaga [nakesnya] nya cuma satu, ya tidak bisa melayani,” tambahnya.

Sejumlah RS di Surabaya kini tengah mengevaluasi dan mencoba mencari cara untuk memperbaiki sitem pelayanannya. Yakni dengan mengatur skema dengan buka-tutup sementara IGD-nya.

“Makanya itu, kami juga sekarang situasi RS ini bertahan, betul-betul bertahan supaya tidak kolaps. Untuk itu kami ngatur, ngatur tenaga, ngatur buka-tutupnya,” ujar dia,

Kepada pasien yang tak tertampung di RS, Dodo pun berpesan agar mereka mau mengkomunikasikan keadaannya kepada puskesmas, serta petugas Satgas Covid-19 di lingkungan sekitar rumahnya. Hal itu agar pasien bisa dipantau kondisinya oleh petugas setempat.

“Masyarakat lapor ke puskesmas, nggak usah malu, nggak usah takut, biar dimonitor oleh puskesmas yang di sekitar rumah si pasien yang isoman, biar bisa terkontrol, kalau ada kesulitan,” katanya.

Ia pun memohon agar masyarakat mau bekerja sama menghentikan laju penularan Covid-19 ini, dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan mematuhi segala aturan dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. (cnn)