6 Parpol Bentuk Koalisi Hadang Risma – Wisnu

Tidak ada komentar 160 views

Surabaya,(DOC) – Enam Partai Politik yang memiliki perwakilan di lembaga DPRD kota Surabaya siap berkoalisi dalam Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Surabaya 2015. Wakil Ketua DPC PKB Surabaya, Satuham, Rabu (24/6/2015) mengungkapkan, enam parpol, yakni PKB, Gerindra, Golkar, Demokrat, PKS dan PAN, telah melakukan pertemuan di Hotel Garden Palace, Selasa(23/6/2015) kemarin, untuk membentuk koalisi.

Politisi PKB ini mengatakan, alasan pembentukan koalisi besar, karena masing-masing parpol tidak bisa mengusung calon sendiri.“Kenapa harus koalisi, karena berangkat sendiri gak bisa,” ungkapnya.

Di sisi lain, menurutnya wacana aklamasi dalam pilkada yang disampaikan PDIP dinilai melangar peraturan perundangan, sekaligus menunjukkan matinya demokrasi di Surabaya. “Isu beredarnya pilkada aklamasi selain menghantam peraturan juga menunjukkan matiya demokrasi di Surabaya,” tuturnya.

Satuham mengakui, dalam pemilukada 2015 mendatang PDIP bisa mengusung pasangan calon sendiri. Namun menurutnya bagaimana dengan partai lainnya. “Jika PDIP kabarnya merekom Risma dan WS, terus yang lain mau dikemanakan jika semuanya dari PDIP,” tegasnya.

Ia mengakui dalam pertemuan tersebut, pihaknya sepertinya “dipaksa” untuk membentuk koalisi baru guna menandingi pasangan yang diusung PDIP belum mengusulkan bakal calon yang diusung. “Siapa yang berangkat belum, termasuk kriterianya seperti apa,” tandas Satuham.

Staf Ahli Fraksi PKB ini mengatakan, terkait bakal calon, pihaknya akan melakukan penjaringan bersama. Namun demikian, nama yang diusulkan kemungkinan tak jauh dari nama-nama yang selama ini mencalonkan di beberapa partai politik. “Yang jelas ngambil yang ada di dalam, yang sudah daftar di partai. Apalagi pendaftaran di partai kan suda tutup,” katanya.

Menanggapi terbentuknya koalisi enam parpol, Ketua Bappilu DPC PDIP Surabaya Adi Sutarwiyonno menilai hal itu merupakan suatu keniscayaan. Anggota FPDIP DPRD Surabaya mengatakan, adanya ikhtiar enam parpol yang siap bersaing dengan PDIP dalam Pemilukada Surabaya 2015 karena demokrasi saat ini adalah demokrasi voting yang lebih menghargai adanya kompetisi. Sedangkan PDIP mengedepankan azas musyawarah mufakat sepertiyang dirumuskan founding fathers bangsa Indonesia. “Demokrasi kita memang lebih menghargai voting, sementara PDIP berpijak pada azas musyawarah mufakat,” ujarnya.

Ia mengakui, azas musyawarah mufakat tidak diatur dalam undang – undang pilkada. Untuk itu, ia menilai ketidaksempurnaan undang-Undang tersebut hanya memberi ruang terselenggaranya demokrasi voting, dan tidak memberi opsi secara prosedural azas Musyawarah mufakat itu. “Apabila rakyat tidak menyukai kompetisi tetapi perangkat undang-undang memaksa rakyat untuk berkompetisi,” terang Alumnus FISIP Unair.

Pria yang akrab disapa Awi ini mengharapkan, munculnya koalisi baru yang akan menjadi pasangan calon yang diusung PDIP ini bisa menyodorkan alternatif kepemimpinan yang kompetitif. “Mudah-mudahan pasangan calon yang diusung nantinya memunculkan satu paket calon yang kepemimpinannya sama baiknya dengan pasangan Risma – WS,” katanya.

Ia menilai, jika pemilukada tidak berlangsung dengan kompetitif, demokrasi voting yang berlangsung nantinya hanya menghambur-hamburkan biaya.

Saat ditanya apakah pertemuan antar Parpol yang digagas PDIP di kediaman Wakil Walikota masih akan berlangsung pasca munculnya koalisi besar, Adi Sutarwiyono mengatakan, hal itu bergantung pada PKB selaku tuan rumah.“Pada pertemuan tersebut, PDIP diikutkan atau tidak. Jika tidak gak apa-apa. Namun, bila diikutkan dengan senng hati kita akan bertukar pikiran dengan yang lainnya,” jelas Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya.

Ia berharap, pada pertemuan antar parpol nantinya agendanya bagaimana mengelola pilkada mendatang. Pasalnya, menurutnya, dalam mengelola Surabaya membutuhkan kebersamaan antar parpol. Ia mengaku, PDIP tidak punya keinginan untuk berkompetisi dengan partai lainnya. “Saat pertemuan di kediaman Pak WS tak ada keinginan PDIP berkompetisi dengan partai lain. Tapi justru ingin membangun kebersamaan. Untuk itulah, muncul istilah pilkada aklamasi,” pungkasnya.(k4/r7)