Jakarta,(DOC) – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menyebut pihaknya sudah mendapat laporan terkait lebih dari 70 siswa keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Pondok Kelapa, Jakarta Timur.
Menurutnya, celah terjadinya peristiwa keracunan MBG adalah di proses pembuatan makanan.
“Ternyata proses pembuatannya lama sehingga terjadi insiden, peristiwa itu,” kata pria yang akrab disapa Benny ini, Senin (6/4/2026).
Sebanyak 72 siswa dari empat sekolah di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, dilaporkan mengalami gejala seperti sakit perut, diare, dan mual setelah mengonsumsi makanan dari program MBG. Para korban kini dirawat di RSKD Duren Sawit, RSKD Pondok Kopi, dan Rumah Sakit Harum, dengan kondisi yang dilaporkan berangsur membaik.
Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan akan menanggung penuh seluruh biaya pengobatan para korban. Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. BGN juga akan bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan di rumah sakit,” ujarnya.
Selain itu, operasional dapur SPPG Pondok Kelapa 2 di Duren Sawit dihentikan sementara karena belum memenuhi standar, termasuk dari sisi tata letak dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Insiden bermula pada Kamis (2/4/2026) ketika 36 siswa pertama kali dilaporkan mengalami gejala. Jumlah korban kemudian meningkat menjadi lebih dari 60 orang keesokan harinya. Menu yang dikonsumsi saat itu meliputi spaghetti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran campur, dan buah stroberi. (rd)





