MEDAN (DOC) – Untuk kesekian kalinya, program Pemkot Surabaya mendapatkan pengakuan secara nasional. Terbaru, kalangan pers memberikan Penghargaan Anugerah Kebudayaan kepada Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi atas jasanya membangkitkan budaya gotong royong di Surabaya melalui program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), Dandan Omah.
Acara semakin berkesan saat Penghargaan tersebut diterima oleh Cak Eri pada Puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2023, Kamis (9/2). Diserahkan langsung oleh Penanggung Jawab HPN 2023, Atal S.
Depari, acara tersebut juga disaksikan oleh Presiden Joko Widodo bersama sejumlah Menteri.
Berlangsung di Gedung Serba Guna Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemrovsu), Medan, Sumatera Utara, perwakilan organisasi wartawan dari seluruh Indonesia ikut hadir.
Bagi Cak Eri, penghargaan tersebut bukan serta merta hanya karena jasanya.
“Penghargaan ini merupakan kebanggan bagi saya pribadi dan seluruh rakyat Surabaya. Sehingga, penghargaan ini kita berikan dan berikan rasa hormat kepada seluruh warga Surabaya,” kata Cak Eri ditemui seusai acara.
Menurut Cak Eri, budaya gotong royong bukanlah hal baru di Surabaya. Sejak dahulu, masyarakat di Kota Pahlawan terbiasa menyelesaikan berbagai masalah dengan gotong royong.
Mulai dari masalah lingkungan, sosial, hingga ekonomi pun diselesaikan melalui kerjasama warganya. Termasuk, program Dandan Omah yang digagas Pemkot Surabaya juga banyak mengandalkan kolaborasi antar warga.
Pada proses penilaian oleh PWI Pusat, pihaknya lantas mempresentasikan program ini.
“Di surabaya, banyak program padat karya yang dibangun dengan gotong royong. Di antaranya yang paling nampak, program (perbaikan) rutilahu ini,” katanya.
Dalam memperbaiki sebuah rumah tidak layak, Pemkot mengolaborasi berharga pihak. Mulai dari usulan yang berangkat dari warga, belanja produk material di toko terdekat, hingga melibatkan tukang dan pekerja dari para tetangga.
“Dampaknya, ekonomi semakin meningkat dan mengurangi pengangguran di sekitar warga yang rumahnya dibangun,” kata mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini.
“Di sinilah menggerakkan semuanya. Ketika (program perbaikan) rutilahu ini digerakkan, maka mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan menggerakkan ekonomi,” katanya.
Dengan pergerakan ekonomi, maka masalah sosial di masyarakat bisa diatasi.
“Kalau kemiskinan dan pengangguran berkurang serta ekonomi bergerak, maka secara otomatis bayi stunting, bayi gizi buruk, dan berbagai masalah lainnya bisa dikurangi,” katanya.
Dia mengakui, gotong royong inilah yang membuat Surabaya hebat. “Inilah hebatnya warga Surabaya yang sampai dengan zaman modernisasi, zaman sebagai kota dunia, tapi guyub rukunnya, gotong royongnya tidak hilang. Top warga Surabaya,” katanya.
Soal peran media massa, Cak Eri mengakui kontribusinya cukup signifikan. Terutama, dalam menggelorakan gotongroyong para warga.
“Akhirnya, membuat warga Surabaya semakin berlomba untuk menjadi bagian dari (perbaikan) rutilahu. Tak hanya tenaga namun juga ada yang memberikan bantuan hingga memberikan uang,” katanya.
“Media massa ikut menggugah orang untuk memberikan kelebihannya. Inilah peran pers sangat luar biasa sehingga Surabaya hari ini laju perekonomiannya 7,5 persen,” katanya.
Pertumbuhan ekonomi Surabaya telah menembus 7,17 persen selama 2022. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibanding 9 tahun terakhir. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) juga turun dari 9,68 persen (2021) menjadi 7,62 persen (2022).
“Ini karena apa? Ini karena peran pers yang ada di kota Surabaya. Yang menggugah rasa seluruh warga Surabaya untuk mau bahu membahu bergerak bersama untuk menyelesaikan semua masalah di kota Surabaya,” katanya.