Kerja Sama Pemkot Surabaya–IDI Dorong Layanan Kesehatan Berbasis Data

Kerja Sama Pemkot Surabaya–IDI Dorong Layanan Kesehatan Berbasis Data

Surabaya,(DOC) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi menjalin kerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia Cabang Surabaya untuk memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat. Kerja sama tersebut di tuangkan dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang di lakukan langsung oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Ketua IDI Cabang Surabaya, dr. Muhammad Shoifi, di ruang kerja Wali Kota Surabaya, Rabu (28/1/2026).

Bacaan Lainnya

Melalui MoU ini, Pemkot Surabaya dan IDI sepakat memperkuat layanan kesehatan anak dan remaja, kesehatan perempuan dan reproduksi, penanganan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, obesitas, penyakit degeneratif, hingga kanker. Kerja sama ini juga mencakup percepatan penanggulangan Tuberkulosis (TBC).

Wali Kota Eri Cahyadi menyampaikan bahwa kolaborasi ini menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif berbasis data dan sains, di mulai dari tingkat paling dasar, yakni RW. Melalui pendekatan tersebut, Pemkot Surabaya ingin memetakan kondisi kesehatan warga secara detail dan menyeluruh.

“Kerja sama ini di awali dengan pemetaan kondisi kesehatan warga di tingkat RW. Kami ingin mengetahui secara detail persoalan kesehatan yang ada di setiap RW, bukan hanya penyakit, tetapi juga kondisi kesehatan seperti stunting maupun ibu dengan risiko tinggi,” ujar Wali Kota Eri.

Ia menjelaskan, hasil pemetaan tersebut akan membentuk klaster-klaster kesehatan yang menggambarkan persoalan utama di masing-masing wilayah. Dari situ, Pemkot Surabaya bersama IDI dapat menentukan prioritas penanganan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.

“Dari kajian dan telaah IDI, kita bisa mengetahui Surabaya ini sebenarnya darurat di sektor kesehatan yang mana. Dari situ, kita susun langkah-langkah intervensinya,” jelasnya.

Kesadaran Masyarakat

Wali Kota Eri menegaskan bahwa keberhasilan program kesehatan tidak di ukur dari tingginya angka kunjungan rumah sakit akibat sakit, melainkan dari meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Baca Juga:  DPRD Minta Pemakaman Tak Dikelola dengan Logika Bisnis

“Daerah yang baik bukan yang rumah sakitnya penuh karena orang sakit, tetapi yang warganya datang untuk cek kesehatan. Itu tanda masyarakat sehat dan upaya preventif berjalan,” tegasnya.

Ke depan, Pemkot Surabaya dan IDI akan kembali menggelar pertemuan lanjutan untuk menyusun timeline pelaksanaan program, termasuk pemenuhan kebutuhan dokter di puskesmas pembantu (pustu). Selama ini, pustu umumnya hanya di layani bidan dan perawat.

“Dengan kerja sama ini, kami berharap dokter juga bisa hadir di pustu, sehingga warga merasa lebih nyaman dan tidak ragu untuk berobat,” ungkap Wali Kota Eri.

Selain itu, pemetaan klaster kesehatan di tingkat RW akan menjadi dasar perencanaan anggaran kesehatan. Setiap RW akan mendapatkan alokasi anggaran sesuai kebutuhan riil yang kemudian di sinergikan dalam anggaran kota.

“Setiap RW punya kebutuhan berbeda. Dengan pendekatan ini, anggaran benar-benar berbasis kebutuhan nyata, bukan sekadar pembagian umum,” ujarnya.

Wali Kota Eri optimistis, kolaborasi ini mampu meningkatkan derajat kesehatan warga Surabaya, menekan angka stunting, serta menurunkan angka kematian ibu dan anak. Beberapa RW akan di tetapkan sebagai proyek percontohan mulai Mei 2026 sebelum di terapkan secara menyeluruh.

Sementara itu, Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi menyambut baik kerja sama tersebut. Ia menilai visi dan keterbukaan Pemkot Surabaya menjadi modal penting dalam membangun sistem kesehatan berbasis data dan sains.

“IDI Cabang Surabaya memiliki sekitar 7.600 anggota, mulai dari dokter umum, spesialis, hingga akademisi. Potensi ini siap kami kerahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Surabaya secara terstruktur dan berkelanjutan,” pungkasnya. (r6)

Pos terkait