Surabaya,(DOC) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur memastikan stabilitas sektor jasa keuangan di daerah tetap terjaga hingga November 2025. Kondisi tersebut di nilai menjadi penopang penting bagi prospek perekonomian Jawa Timur pada 2026, di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlanjut.
OJK Jawa Timur mencatat, ketahanan sektor jasa keuangan tercermin dari kinerja perbankan, industri keuangan nonbank (IKNB), pasar modal, serta penguatan literasi dan inklusi keuangan, termasuk aspek pelindungan konsumen. Stabilitas ini menjadi fondasi penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari, mengatakan bahwa dari sisi stabilitas harga, inflasi Jawa Timur masih berada dalam rentang yang terkendali. Berdasarkan data Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, inflasi Jawa Timur pada November 2025 tercatat sebesar 2,63 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedikit meningkat di bandingkan triwulan III 2025 yang sebesar 2,53 persen (yoy).
“Meski mengalami kenaikan, inflasi Jawa Timur masih berada di sekitar sasaran nasional, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen,” ujar Yunita di Surabaya, Kamis (29/1).
Ia menjelaskan, kenaikan inflasi tersebut terutama di picu oleh meningkatnya harga komoditas hortikultura akibat curah hujan tinggi, serta komoditas peternakan yang terdorong kenaikan biaya input dan meningkatnya permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru.
Inflasi Tertahan
Namun demikian, tekanan inflasi relatif tertahan oleh berbagai kebijakan stimulus pemerintah, salah satunya kebijakan subsidi Pajak Pertambahan Nilai Di tanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk angkutan udara, yang membantu menahan laju kenaikan harga pada kelompok transportasi.
OJK Jawa Timur juga mencatat pengendalian inflasi terus di perkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Jawa Timur bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat. Upaya tersebut di wujudkan antara lain melalui implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Secara tahunan, inflasi Jawa Timur pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,93 persen (yoy) sekaligus menjadi inflasi kumulatif sepanjang 2025 atau year to date (ytd). Pada periode tersebut, Indeks Harga Konsumen (IHK) Jawa Timur mencapai 110,25, menunjukkan inflasi masih dalam kondisi terkendali meski terdapat tekanan musiman secara bulanan.
Ke depan, OJK memperkirakan risiko inflasi masih berpotensi bersumber dari komoditas pangan strategis, komponen nonpangan berbobot besar seperti emas perhiasan, serta kelompok transportasi seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
“Oleh karena itu, pengendalian inflasi ke depan perlu di fokuskan pada stabilisasi pasokan pangan, kelancaran distribusi, serta respons musiman berbasis kewilayahan. Langkah ini penting untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran dan menekan disparitas harga antar daerah,” pungkas Yunita. (r6)




