
Surabaya, (DOC) – Pemkot Surabaya mempercepat pengerjaan proyek konektivitas saluran drainase di Jalan Prof. Dr. Moestopo. Percepatan ini dilakukan sebagai langkah untuk mempercepat penanganan genangan air yang kerap terjadi di kawasan Karang Menjangan.
Kepala Bidang (Kabid) Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Adi Gunita, menegaskan bahwa pengerjaan di ruas jalan arteri tersebut menjadi prioritas utama untuk segera diselesaikan. Proyek yang mencakup pemasangan box culvert ini diproyeksikan berjalan selama empat bulan hingga awal September 2026, namun khusus untuk jalur utama akan dirampungkan lebih cepat.
“Jadi memang proyeknya keseluruhan selama empat bulan, tapi kita kejar untuk di posisi jalan arterinya yang Moestopo itu kita percepat,” ujar Adi, Selasa (30/6/2026).
Adi menjelaskan, proyek galian yang dimulai pekan ini berfungsi sebagai saluran penghubung (konektivitas) menuju Rumah Pompa Dharmahusada. Saluran baru tersebut akan mengintegrasikan drainase di daerah Moestopo dan Karang Menjangan.
“Fungsinya untuk saluran konektivitas. Nanti air dari Karang Menjangan yang sekiranya kemarin ada permasalahan genangan, akan kita sedot di Rumah Pompa Dharmahusada untuk dibuang ke Kali Jeblokan. Ini salah satu solusi konkretnya,” jelas Adi.
Adapun titik penggalian dimulai dari depan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga Kampus A hingga simpang lampu lalu lintas (traffic light) Jalan Karang Menjangan.
“Untuk memastikan target penyelesaian tercapai, Pemkot Surabaya memastikan proyek ini digarap tanpa henti. “Pekerjaan tetap berlangsung setiap hari. Hitungan hari kalender, kita tidak ada libur,” tegasnya.
Dalam proses percepatan ini, Adi tidak menampik adanya kendala teknis di lapangan, salah satunya persinggungan dengan pipa PDAM yang sempat mengalami kebocoran ringan. Namun, penanganan intensif terus dilakukan agar tidak mengganggu linimasa proyek.
Di sisi lain, percepatan proyek ini berdampak pada penyempitan jalur (bottleneck) yang memicu kepadatan lalu lintas. Menyikapi hal tersebut, Pemkot Surabaya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat dan pengguna jalan.
Sebagai strategi meminimalkan kemacetan, pengerjaan konstruksi berat dialihkan seluruhnya pada malam hari atas koordinasi dengan pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan (Dishub).
“Ngapunten (mohon maaf) ada sedikit gangguan dan penyempitan. Pengerjaan memang kita lakukan malam hari. Sedangkan pada pagi hingga sore, disiapkan rekayasa lalu lintas berupa penyesuaian durasi lampu merah serta penyiapan personel Dishub dan kontraktor di lokasi untuk mengatur arus kendaraan,” pungkas Adi.





