
Surabaya, (DOC) – Sikap masyarakat yang masih menganggap tabu edukasi kesehatan reproduksi dinilai menjadi celah utama melonjaknya risiko penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di kalangan remaja. Di tengah derasnya arus informasi media sosial, keheningan di lingkungan keluarga dan sekolah justru mendorong anak mencari jawaban dari sumber yang salah.
Pengamat HIV/AIDS Jawa Timur, Rachmat Hargono, menegaskan bahwa edukasi reproduksi sejak dini yang disesuaikan dengan usia anak adalah benteng terpenting agar remaja tidak terjebak dalam perilaku berisiko.
“Jangan sampai karena dianggap tabu, anak justru mencari informasi dari sumber yang belum tentu benar. Pembahasannya harus dibuka, bukan ditutupi,” tegas Rachmat, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Rachmat, derasnya arus informasi digital yang tidak diimbangi dengan literasi kesehatan reproduksi dari orang tua dan sekolah membuat remaja rentan terpapar mitos yang menyesatkan. Karena itu, peran edukasi tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan.
Selain edukasi untuk memutus rantai penularan, Rachmat mendorong masyarakat dan remaja untuk tidak takut melakukan skrining HIV sebagai upaya deteksi dini, sekaligus mengikis stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV).
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sendiri terus memperluas akses tes HIV dan penyediaan terapi antiretroviral (ARV). Namun, seluruh langkah medis tersebut tidak akan maksimal jika masyarakat masih memelihara tabu dan enggan membicarakan kesehatan reproduksi secara terbuka bersama generasi muda.


