Surabaya,(DOC) – Dalam rangka Hari AIDS Sedunia, Pemkot Surabaya melalui Dinas Kesehatan menegaskan komitmennya untuk menekan dan mencegah kasus HIV/AIDS. Upaya utama di lakukan dengan memperluas layanan tes kesehatan, memperkuat peran Puskesmas, dan menggandeng kelompok masyarakat peduli AIDS.
Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Nanik Sukristina, menyampaikan bahwa saat ini terdapat 126 tempat tes HIV yang tersebar di 63 Puskesmas, 62 rumah sakit, dan 1 klinik utama. Layanan ini di prioritaskan bagi kelompok dengan risiko penularan tinggi, seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, LSL, waria, ibu hamil, calon pengantin, dan pasien penyakit menular seperti TBC serta infeksi menular seksual.
Dinkes juga memperkuat kolaborasi dengan kelompok peduli HIV seperti Aliansi Surabaya Peduli AIDS (ASPA) dan pendamping sebaya untuk memperluas edukasi, tes, dan pencegahan langsung di masyarakat.
Menurut Nanik, Puskesmas kini menjadi layanan utama bagi ODHIV. Selain deteksi awal dan perawatan, Puskesmas juga menyediakan pengobatan ARV secara rutin. Layanan tes HIV terintegrasi dengan pemeriksaan kesehatan lainnya, termasuk PKG, tes TBC, pemeriksaan calon pengantin, dan pemeriksaan ibu hamil.
Edukasi di tujukan bagi calon pengantin dan ibu hamil untuk meningkatkan pemahaman tentang risiko penularan HIV. Kader kesehatan dan Karang Taruna juga di bekali materi tentang HIV dan bahaya narkoba. Sosialisasi di lakukan di sekolah tingkat SMP dan SMA untuk memberikan pemahaman tentang HIV, pergaulan berisiko, dan penyalahgunaan narkoba.
Kolaborasi Lintas Sektor
Upaya ini di perkuat kolaborasi lintas sektor bersama OPD, LSM, dan komunitas untuk pendampingan ODHIV dan penjangkauan kelompok berisiko. Namun, sejumlah tantangan masih di hadapi, mulai dari stigma masyarakat, sulitnya menjangkau kelompok tersembunyi, tingginya mobilitas pendatang yang melakukan tes di Surabaya, hingga ODHIV yang berhenti minum obat karena efek samping atau kurang dukungan keluarga.
Nanik menyebut bahwa Surabaya kini menjadi pusat rujukan bagi wilayah Indonesia Timur dan daerah lain, sehingga banyak kasus yang tercatat bukan berasal dari warga Surabaya. Data tahun 2025 hingga Oktober menunjukkan 52,48 persen kasus baru merupakan penduduk luar daerah.
Meski begitu, perkembangan kasus HIV tahun 2025 mengalami penurunan 10,03 persen di bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Penurunan ini hasil kerja keras semua pihak. Kami terus berupaya menghilangkan stigma dan memastikan setiap warga, termasuk pendatang, mendapat layanan kesehatan terbaik,” ujar Nanik. (r6)





