
Surabaya, (DOC) – Pemkot Surabaya terus memperkuat ketahanan pangan wilayah perkotaan melalui pemanfaatan lahan efisien. Memasuki penyelenggaraan tahun kelima, Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026 secara khusus menargetkan budidaya cabai rawit dan bawang merah sebagai komoditas utama yang wajib ditanam oleh masyarakat tahun ini.
Langkah strategis yang digagas melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya tersebut resmi diluncurkan pada Jumat (4/9/2026) di Graha Sawunggaling. Pemilihan cabai rawit dan bawang merah bukan tanpa alasan, melainkan dirancang untuk menjaga kestabilan pasokan pangan lokal sekaligus mengendalikan laju inflasi daerah menjelang akhir tahun.
Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Surabaya, Anna Fajriatin, menjelaskan bahwa budidaya dua komoditas pangan utama ini akan disinergikan langsung dengan program Lomba Kampung Pancasila yang melibatkan 1.361 RW se-Kota Surabaya.
“Di tahun 2026 ini akan menjadi sebuah sinergi yang hebat. Program dari Dinas Ketahanan Pangan melalui Urban Farming Competition akan bersinergi dengan Lomba Kampung Pancasila. Urban farming ini tidak hanya menjadi kegiatan lomba, tetapi menjadi gerakan bersama di setiap wilayah. Dengan keterlibatan 1.361 RW, kita ingin membangun ketahanan pangan mulai dari lingkungan masing-masing,” ujar Anna.
Pada kesempatan yang sama, Kepala DKPP Kota Surabaya, Nanik Sukristina, mengungkapkan bahwa target utama penanaman cabai rawit dan bawang merah difokuskan pada optimalisasi lahan perkotaan, mulai dari pekarangan rumah, lahan aset, hingga fasilitas umum yang belum termanfaatkan.
“Ketahanan pangan kita mulai dari skala rumah tangga. Setelah itu, secara bertahap bisa dikembangkan ke skala yang lebih luas, misalnya tingkat RW. Pada kategori kelompok tani, peserta membudidayakan cabai rawit dan bawang merah. Panitia menyediakan 30 bibit bawang merah dan satu paket benih cabai rawit, sementara media tanam serta perlengkapan budidaya disiapkan secara mandiri oleh peserta,” jelas Nanik.
Proses penanaman dan pemeliharaan kedua komoditas tersebut dijadwalkan mulai berjalan pada 6 September 2026, dengan target panen raya pada awal Desember 2026. Momentum panen ini disiapkan secara presisi untuk mengantisipasi lonjakan harga jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
“Rangkaian SUFC dirancang agar panen berlangsung pada awal Desember. Panen tersebut diharapkan dapat turut menekan angka inflasi. Menjelang akhir tahun, Natal dan Tahun Baru, biasanya terjadi peningkatan permintaan yang dapat mendorong kenaikan harga komoditas seperti cabai dan bawang merah. Yang ingin kita dorong adalah bagaimana masyarakat bisa ikut memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming,” tambahnya.
Melalui penetapan target budidaya cabai rawit dan bawang merah tahun ini, Pemkot Surabaya optimistis mampu mendorong tingkat kemandirian pangan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah berbasis partisipasi warga.





