
Surabaya, (DOC) – Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Syarief mengungkapkan, duka mendalam atas meninggalnya Munawi, relawan pemadam yang sempat dirawat intensif di RSUD Dr Soetomo.
Meninggalnya Munawi menambah daftar korban jiwa akibat insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo. Dengan demikian, total korban meninggal dunia dalam tragedi ini menjadi lima orang.
“Kami dari BPBD Kabupaten Probolinggo mewakili pemerintah turut berdukacita atas meninggalnya empat pahlawan bagi kami di dalam memadamkan api. Kemudian bertambah lagi hari ini satu, jadi totalnya lima dari enam yang telah menjadi korban,” ujar Oemar Syarief, Senin (19/10/2026)
Oemar menjelaskan, insiden nahas yang menimpa para petugas dan relawan pemadam ini berawal dari kejadian pada Kamis lalu. Tiga orang dinyatakan meninggal dunia secara langsung di lokasi kejadian.
Sementara itu, tiga korban lainnya dilarikan ke rumah sakit. Satu korban meninggal di RSUD Dr. Moh. Saleh Probolinggo, sedangkan dua korban lainnya yang mengalami luka serius langsung dirujuk ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya.
Namun, nyawa Munawi tidak tertolong dan diumumkan meninggal dunia pada pukul 14.55 WIB setelah mendapat perawatan medis.
“Jenazah atas nama Munawi meninggal dunia hari ini. Beliau ini informasi yang kami terima merupakan bagian dari pihak TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) yang selama ini sangat aktif membantu pemadaman saat karhutla,” lanjut Oemar.
Rencananya, jenazah almarhum Munawi akan segera dipulangkan dan diantar menuju rumah duka di Probolinggo malam ini sesuai permintaan pihak keluarga.
Hingga saat ini, tersisa satu korban selamat yang masih berjuang melewati masa kritis akibat luka bakar parah hingga 49 persen. Korban tersebut saat ini masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Dr Soetomo.
“Untuk update kondisi kesehatannya kami masih menunggu laporan medis resmi. Namun tadi kami sudah menjenguk ke ruang ICU. Kita doakan bersama mudah-mudahan beliau dapat segera sembuh, sehat seperti sediakala, dan bisa beraktivitas kembali,” harap Oemar.
Oemar menegaskan bahwa kejadian tragis ini menjadi duka mendalam sekaligus evaluasi bersama bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana karhutla di kawasan Gunung Bromo ke depan.



