Waspadai Nyamuk DBD Disaat Musim Kemarau, Dinkes Ingatkan Masyarakat

Surabaya,(DOC) – Musim hujan diperkirakan berakhir bulan April mendatang, sementara puncak musim hujan akan berlangsung pada bulan Maret. Saat ini musim pancaroba tengah berlangsung yang akan menimbulkan berbagai wabah penyakit mulai mewabah. Dimusim kemarau warga Surabaya diminta mewaspadai maraknya nyamuk demam berdarah (DB), Diare dan Flu.
Disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita, nyamuk berbahaya ini sudah mulai mewabah. Namun Dinkes telah melakukan antisipasi pencegahan.
Diawal tahun 2017 sampai sekarang sudah terdapat 27 orang yang terserang DBD. Namun penderita DBD ini, relative menurun dibanding tahun sebelumnya. Menurut Febria, pada waktu yang sama ditahun 2016 lalu, penderita DBD mencapai 50 orang. Sedang untuk pasien diare juga sekitar 50 orang.
“Data Dinkes menurun, antara 27 dengan 50 orang penderita DBD.  Artinya sangat rendah karena hampir separuh turunnya,” terangnya, Kamis (16/2/2017).
Febria yang akrab dipanggil Feny, menjelaskan, penurunan angka penderita DBD ini karena kesadaran masyarakat terhadap nyamuk mematikan ini sudah tinggi. Setiap hari jumat, warga melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemeriksaan jentik. Semua kelurahan dan kecamatan serentak melakukan setiap pekan.
“Termasuk juga di institusi dan sekolah, ini kita lakukan rutin bersama warga Surabaya,” ungkapnya.
Meski begitu, Feny meminta warga Surabaya menjaga kondisi tubuh, termasuk pola makan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta makanan yang dikonsumsi adalah makanan sehat. Dan terpenting tidak boleh mengkonsumsi makanan yang berlemak.
Disinggung soal rencana fogging untuk membunuh jentik, Feny mengaku tidak perlu. Kecuali di lokasi tersebut ada penderita DBD. “Maksudnya ketika di area tersebut ditemukan jentik, maka baru kita lakukan fogging, jadi fogging ini dilakukan setelah dipastikan penularan DBD di daerah tersebut,” jelasnya.
Feny menegaskan, foggingisasi tidak sembarang dilakukan, sebab fogging sangat resisten terhadap kesehatan, termasuk dapat mengganggu pernafasan. “Kan kita harus memastikan, orang ini terjangkit dimana, bisa jadi bukan di rumah, bisa di sekolah kalau siswa, atau justru di tempat kerja,” terangnya.(az/r7)