Rumah Lahir Soekarno Dibeli Pemkot Surabaya Rp1,2 Miliar, Begini Kata Sang Pemilik

Jamilah (kiri) saat penyerahan rumah lahir Soekarno kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini

Surabaya (DOC) – Setelah sempat bungkam terkait nominal harga pembelian rumah lahir presiden pertama RI, Soekarno, Siti Jamilah akhirnya buka suara. Bungsu dari empat bersaudara ini membenarkan kabar jika rumah bersejarah di kawasan Peneleh, Surabaya, itu dibeli Pemkot Surabaya seharga Rp1,2 miliar.

“Iya benar, dibeli dengan harga segitu (Rp1,2 miliar),” tukasnya, seperti dilansir dari Kumparan, Senin (30/8).

Bacaan Lainnya

Meski rumah itu telah resmi menjadi milik negara sejak tanggal 17 Agustus 2020, namun hingga kini Jamilah masih mendiami rumah dengan dua kamar tidur tersebut. Pasalnya, hingga kini Jamilah mengaku kesulitan mencari rumah baru di kawasan Surabaya.

“Agak susah saya cari rumah disini karena harganya mahal-mahal, diatas Rp500 juta. Apalagi saya inginnya rumah masih di sekitaran sini saja, yang dekat dengan tempat kerja suami,” jelas perempuan paruh baya ini.

Selain itu, lanjut Jamilah, uang dari Pemkot tersebut masih belum dia terima hingga kini. Dijelaskan Jamilah jika rumah yang ditempatinya sejak tahun 1990an itu atas nama dia dan ketiga saudaranya. Mengingat kakak sulungnya yang telah meninggal dunia, maka Jamilah harus menghubungi ahli waris dari sang kakak.

“Almarhum kakak kan belum menikah, jadi masih harus diurus terkait ahli warisnya. Itu yang jadi kendala uangnya masih belum bisa cair. Sekarang sedang diurus keluarga, mudah-mudahan segera beres,” harapnya.

Terkait rumah pengganti, Jamilah kembali menegaskan cukup kesulitan mendapatkannya. Beberapa kali Jamilah sudah menemukan calon rumah yang diinginkan, namun harga menjadi kendala.

“Rumah di Surabaya sekarang harganya mahal-mahal. Apalagi yang di sekitaran sini. Sementara uang yang dari Pemkot kan juga harus dibagi karena rumah ini atas nama kami berempat,” ujarnya.

Rumah di Jalan Peneleh Gang Pandean IV nomor 40 itu ditetapkan sebagai ‘Bangunan Cagar Budaya’ pada 2013 silam sebagai “Rumah Kelahiran Bung Karno” oleh Pemkot Surabaya. Karena akan dijadikan sebagai museum, Jamilah dan keluarganya harus rela melepas rumah tersebut.

Meski mengaku berat melepas rumah tersebut karena ada banyak kenangan, namun Jamilah tetap berbesar hati demi kepentingan bangsa dan negara.

“Kalau dibilang berat ya pasti berat melepasnya. Tapi mudah-mudahan rumah ini bermanfaat bagi kepentingan bangsa dan negara,” simpulnya.(kmp)