
Paris,(DOC) – Sebagai bagian dari diplomasi kebahasaan, KBRI Paris resmi membuka Kelas Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Semester I/2025, Selasa (22/4). Pembukaan di lakukan secara daring oleh Duta Besar RI untuk Prancis, Andorra, dan Monako, Mohamad Oemar.
Kelas ini merupakan salah satu bentuk konkret promosi dan internasionalisasi bahasa Indonesia, sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat Indonesia–Prancis yang tahun ini memasuki usia ke-75 tahun diplomasi.
“Kelas BIPA bukan hanya pengajaran bahasa, tetapi juga sarana menjalin people-to-people connection antara Indonesia dan Prancis,” ujar Dubes Oemar.
Atdikbud KBRI Paris, Luh Anik Mayani, menyebutkan bahwa peserta kelas BIPA tidak hanya berasal dari wilayah Île-de-France, tetapi juga tersebar di 81 kota di Prancis serta dari negara lain seperti Belanda, Belgia, Monako, Mesir, hingga Indonesia.
Mengingat luasnya sebaran peserta, kelas di selenggarakan secara daring penuh. Total terdapat 123 peserta, dengan komposisi sebagai berikut:
- A1 (Pemula): 84 peserta
- A2 (Pramadya): 26 peserta
- B1 (Madya/Bisnis): 8 peserta
- B2 (Mahir): 5 peserta
Mayoritas peserta (58%) merupakan profesional, diikuti oleh mahasiswa (22%), dan profesi lain (20%). Motivasi mereka beragam: dari rencana bekerja di Indonesia, studi lanjutan, riset, wisata, hingga mempererat hubungan keluarga atau sekadar ingin mengenal budaya Indonesia lebih dalam.
Kurikulum dan Penjenjangan yang Terstandar
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tahun ini Atdikbud KBRI Paris memperbarui silabus dan sistem penjenjangan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan BIPA (SKL BIPA) dan acuan CEFR (Common European Framework of Reference for Languages), yaitu:
- A1 – Pemula
- A2 – Pramadya
- B1 – Madya/Bisnis
- B2 – Mahir
Kelas di laksanakan dalam 22 sesi: 16 tatap muka daring, 4 sesi praktik lisan dengan tutor, dan 2 kali ujian.
Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra Badan Bahasa Kemendikdasmen, Iwa Lukmana, menyampaikan apresiasi atas konsistensi KBRI Paris dalam mengembangkan diplomasi bahasa.
“BIPA adalah salah satu instrumen kuat dalam diplomasi antarbangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Universitas Telkom juga kembali terlibat sebagai mitra pengajar, menyediakan 30 tutor dan 3 pengajar.
Direktur Akademik Universitas Telkom, Tora Fahrudin, menegaskan pentingnya mengenalkan tidak hanya bahasa, tetapi juga budaya Indonesia. “Semoga para peserta tak hanya belajar bahasa, tapi juga memahami nilai-nilai budaya Indonesia sebagai bagian dari masyarakat global,” katanya.
Program BIPA ini juga di dukung oleh Badan Bahasa Kemendikdasmen, Universitas Telkom, serta mitra di Prancis seperti KJRI Marseille, universitas lokal, dan berbagai asosiasi pelajar Indonesia. (r6)





