Surabaya,(DOC) – Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini kembali dihidupkan dengan cara kreatif oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Surabaya (BEM Ubaya). Dalam rangka memperingati Hari Kartini, mahasiswa menghadirkan mozaik wajah Kartini yang tersusun dari ribuan sticky notes berwarna-warni.
Karya berukuran 2,4 meter persegi tersebut dipamerkan di Selasar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Ubaya. Tidak hanya menjadi instalasi visual, mozaik ini juga menjadi simbol kolaborasi dan semangat kebangkitan generasi muda dalam meneladani nilai-nilai Kartini.
Presiden BEM Ubaya, Richie Devalino Hari Wibawa, menjelaskan bahwa peringatan tahun ini mengusung tema “Rise with Kartini”. Tema tersebut diangkat sebagai ajakan bagi civitas academica Ubaya untuk melanjutkan perjuangan Kartini, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengembangan diri.
“Kartini mengajarkan keberanian untuk bersuara, berkembang, dan berkarya. ‘Rise’ melambangkan semangat untuk bangkit dan menjadi versi terbaik diri, sejalan dengan nilai emansipasi perempuan yang diperjuangkan Kartini,” ujarnya, Rabu (22/4).
Pembuatan mozaik ini bukan tanpa proses panjang. Tim BEM Ubaya membutuhkan waktu sekitar satu minggu, dimulai dari kurasi gambar Kartini hingga tahap digitalisasi menggunakan perangkat lunak desain. Gambar tersebut kemudian dipecah menjadi kotak-kotak kecil berukuran 3 x 5 sentimeter sebelum dicetak sebagai panduan pemasangan.
Sebanyak 10 mahasiswa terlibat langsung dalam proses penyusunan, yang memakan waktu dua hari. Mereka menempelkan sticky notes berwarna hijau, kuning, merah muda, dan biru hingga membentuk potret Kartini yang utuh.
Selain menghadirkan karya seni, BEM Ubaya juga menggelar kampanye “Rise with Kartini” yang mengajak mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk menuliskan pesan inspiratif. Pesan-pesan tersebut berisi harapan dan semangat yang terinspirasi dari perjuangan Kartini.
Richie berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang ekspresi sekaligus penguat solidaritas di kalangan mahasiswa. “Kami ingin ini menjadi wadah untuk saling menginspirasi dan menguatkan, khususnya dalam melanjutkan semangat Kartini di era sekarang,” tuturnya.
Peringatan Hari Kartini di lingkungan Ubaya juga semakin semarak dengan partisipasi mahasiswi, dosen, dan tenaga kependidikan perempuan yang mengenakan kebaya. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan Kartini sekaligus penegasan identitas budaya yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman. (r6)





