BTI Defence, ITS dan Iridium Jalin Kerja Sama Strategis, Sasar Pasar Pertahanan Timur Tengah

Jajaran perwakilan BTI Defence, ITS, dan Iridium berfoto bersama di depan logo ITS dalam kerja sama pengembangan teknologi kelautan dan industri pertahanan.Surabaya, (DOC) – BTI Defence, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan IRIDIUM Services & Logistic Consultancy LLC (Iridium) dari Uni Emirat Arab (UEA) menjalin kerja sama strategis untuk mengembangkan teknologi kelautan dan industri pertahanan. Ketiga pihak menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pada Senin (19/10/2026) sore.

Kerja sama ini mencakup pengembangan teknologi, inovasi produk, riset terapan, hingga industrialisasi di sektor pertahanan dan kemaritiman. Kolaborasi tersebut juga membuka peluang bagi hasil riset dan kompetensi teknologi Indonesia untuk menembus pasar internasional, khususnya kawasan Timur Tengah.

Bacaan Lainnya

Penandatanganan MoU ini merupakan tindak lanjut audiensi mengenai pengembangan teknologi kelautan dan industri kemaritiman. Kehadiran Iridium yang berbasis di UEA diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi industri nasional untuk menjangkau kebutuhan pasar pertahanan di kawasan tersebut.

BTI Defence Bidik Pasar Pemeliharaan Alutsista

Direktur BTI Defence Peter Tjahjono mengatakan, kerja sama dengan Iridium tidak hanya berfokus pada penyediaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Kolaborasi ini juga menyasar layanan maintenance, repair, and overhaul (MRO), yakni pemeliharaan, perbaikan, dan perawatan menyeluruh peralatan pertahanan.

Menurut Peter, kebutuhan layanan MRO di UEA cukup besar. BTI Defence bahkan telah memperoleh komitmen pekerjaan awal di pasar tersebut.

“Kita bekerja sama dengan Iridium untuk memasuki pasar di UEA, di mana pasar untuk maintenance dan overhaul sangat besar dan kita telah mendapatkan komitmen pekerjaan di sana. Langkah berikutnya adalah kita follow up langsung di UEA,” kata Peter.

Peter mengungkapkan, pihaknya belum dapat merinci ruang lingkup teknis kerja sama tersebut. Ketiga pihak masih perlu melakukan pembahasan lanjutan secara langsung di UEA.

Namun, ia menegaskan, Iridium akan berperan sebagai mitra lokal untuk membantu BTI Defence menjangkau kebutuhan industri pertahanan di negara tersebut.

Baca Juga:  Khofifah Resmikan OPOP Training Center ITS, Dorong Produk Pesantren Naik Kelas

Peter juga menilai Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat peran dalam rantai pasok industri pertahanan internasional. Selain mengembangkan produk, Indonesia berpotensi memasok tenaga ahli dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar.

Lulusan ITS Berpeluang Masuk Industri Pertahanan

Salah satu fokus kolaborasi ini adalah pemenuhan kebutuhan tenaga ahli dan teknisi. BTI Defence berencana melibatkan sumber daya manusia lulusan ITS, termasuk tenaga ahli yang memiliki pengalaman di lingkungan Angkatan Laut.

Peter berharap kerja sama ini dapat membuka kesempatan kerja bagi lulusan diploma tiga (D3), khususnya di bidang pemeliharaan dan perbaikan sarana serta prasarana pertahanan.

“Harapannya kita bisa mensuplai tenaga teknisi yang memiliki skill set dari ITS. Lulusan D3 bisa mendapatkan peluang bekerja di sektor industri pertahanan,” ujarnya.

Kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi tersebut diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan tenaga kerja profesional dengan kompetensi yang dikembangkan melalui pendidikan dan riset.

Dengan begitu, lulusan perguruan tinggi tidak hanya memiliki bekal akademis, tetapi juga peluang untuk terlibat langsung dalam pengembangan dan pemeliharaan teknologi pertahanan.

ITS Siapkan Kekuatan Riset Teknologi Kelautan

Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati menyambut positif kerja sama tersebut. Ia menyebut kolaborasi ini mempertemukan kemampuan industri BTI Defence di bidang alutsista dan persenjataan dengan kekuatan sumber daya manusia serta riset ITS Surabaya, terutama dalam teknologi kelautan.

“ITS punya kekuatan SDM di teknologi kelautan, termasuk perkapalan dan desain kapal. Ini ada kesempatan besar,” kata Bambang.

Ia menjelaskan, ITS juga memiliki Pusat Studi Pertahanan yang telah bekerja sama dengan BTI Defence dan Kementerian Pertahanan dalam pengembangan persenjataan.

Menurut Bambang, kapasitas riset tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi dengan industri. BTI Defence dapat berperan dalam membawa hasil penelitian menuju tahap pengembangan produk dan pemanfaatan komersial.

“Mereka dari industri, kami dari sisi penelitian. Apa yang kami wujudkan bisa dimasuki oleh BTI Defence karena mereka dari industri,” ujarnya.

Hovercraft Jadi Salah Satu Rencana Kolaborasi

Salah satu rencana konkret yang dibahas dalam kerja sama tiga pihak tersebut adalah pengembangan kapal hovercraft. ITS menyatakan memiliki pengalaman dalam merancang dan mewujudkan teknologi hovercraft pada 2015 bersama Kementerian Pertahanan.

Baca Juga:  Surabaya Gelar Seleksi JPT Pratama, Enam ASN Terbaik Bersaing

Pengalaman itu dinilai dapat menjadi modal awal untuk mengembangkan kolaborasi antara ITS, BTI Defence, dan Iridium.

“BTI Defence berkolaborasi dengan Iridium membangun hovercraft. Kami punya pengalaman membangun hovercraft pada 2015, sudah mendesain dan di wujudkan oleh Kemenhan,” kata Bambang.

Ia menilai, keberadaan Iridium di UEA memberikan peluang strategis untuk membawa hasil pengembangan teknologi Indonesia ke pasar yang lebih luas.

“Ini kesempatan besar karena Iridium basisnya ada di UEA. Di sana banyak hal yang bisa kita lakukan bersama,” tambahnya.

Melalui kerja sama ini, ketiga pihak berupaya menyelaraskan kebutuhan pasar dengan kemampuan industri, penelitian, dan pengembangan teknologi ITS. Kolaborasi tersebut di harapkan menghasilkan produk serta solusi yang aplikatif, relevan dengan kebutuhan pengguna, dan berpotensi di kembangkan secara komersial.

Penandatanganan MoU tersebut turut dihadiri Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati, Direktur BTI Defence Peter Tjahjono, Komisaris BTI Defence Iman Sulaiman, Chief Operating Officer Iridium Hmood Al Shkeili, Duta Besar RI untuk UEA Judha Nugraha, Wakil Rektor IV ITS Prof. Mohammad Hatta, serta mantan Wakil Rektor IV ITS Prof. Eko Budi Djatmiko.(r7)

Pos terkait