Deklarasi Alghorethicts: Etika untuk Kecerdasan Buatan di Era AI

Deklarasi Alghorethicts: Etika untuk Kecerdasan Buatan di Era AI
foto: ilustrasi

Jakarta,(DOC) – Pertemuan internasional International Meeting on Meaning di Vatikan, 27–29 Mei 2025, mempertemukan pemimpin agama, akademisi, pegiat pendidikan, seniman, dan kaum muda. Mereka menandatangani Deklarasi Alghorethicts yang menekankan pentingnya etika dalam pengembangan algoritma kecerdasan buatan (AI).

Scholas, yayasan pendidikan global yang di dirikan Paus Fransiskus, menggelar pertemuan ini untuk membahas tantangan moral akibat kemajuan AI. Tokoh pendidikan, tokoh politik Nasionalis-Islam dan mantan Bupati Bojonegoro, Dr. Suyoto M.Si atau biasa di sapa Kang Yoto yang juga dari United in Diversity Foundation mengikuti acara tersebut. Ia menjelaskan bahwa AI berbeda dari teknologi lain karena memiliki kemampuan mengambil keputusan sendiri (agency).

Bacaan Lainnya

“AI bekerja seperti otak buatan yang memilih dan mengatur konten tanpa campur tangan manusia langsung,” ujar Kang Yoto. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah AI peduli pada nilai sosial, pendidikan, dan harmoni masyarakat?

Deklarasi Alghorethicts menggabungkan kata “algorithm” dan “ethics” untuk mengajak semua pihak menanamkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab sosial dalam desain dan penggunaan AI. Kang Yoto menekankan bahwa pembuat kebijakan, penyedia teknologi, pendidik, media, pebisnis, dan pengguna harus bertanggung jawab.

Energi Kepemimpinan: Bahagia Membahagiakan
foto: Kang Yoto

Selain itu, pengguna harus sadar dan mampu memverifikasi informasi. Mereka tidak boleh menerima keputusan AI secara membabi buta. Dalam Islam, prinsip tabayyun dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 juga mengajarkan verifikasi informasi. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu tanpa akhlak dapat merusak.

Kang Yoto menutup dengan peringatan bahwa AI bisa menjadi berkah atau bencana, tergantung nilai yang di tanamkan. United in Diversity berkomitmen menjadikan Alghorethicts bagian dari transformasi sistem berkesadaran melalui kepemimpinan dan kerja sama.(r7)

Baca Juga:  Menaker: Perempuan Harus Jadi Penggerak Dunia Kerja

Pos terkait