Jakarta,(DOC) – Gagasan deep learning atau pembelajaran mendalam tidak sekadar menghadirkan istilah baru dalam kebijakan pendidikan. Konsep ini mendorong pendidikan kembali pada hakikatnya, yakni membentuk manusia yang utuh, kritis, bermakna, dan bermanfaat bagi kehidupan bersama.
Pandangan tersebut disampaikan Suyoto, Chancellor United in Diversity sekaligus pengajar Universitas Muhammadiyah Gresik. Menurutnya, derasnya arus digitalisasi dan tuntutan pragmatis zaman menuntut pendidikan untuk melahirkan manusia yang mampu memahami dan mengolah pengetahuan secara mendalam.
Ia menilai kemampuan melakukan pembelajaran mendalam kini menjadi kebutuhan dasar. Pendidikan tidak cukup hanya menyampaikan informasi. Wajib membekali peserta didik dengan kemampuan menyaring hoaks, membaca realitas, berpikir kritis, dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Pendidikan Lebih dari Transfer Informasi
Suyoto menegaskan pendidikan merupakan ekosistem yang melibatkan guru, murid, keluarga, dan lingkungan sosial. Melalui relasi tersebut, berbagai sumber belajar, mulai dari buku, fenomena sosial, hingga peristiwa alam, dapat diolah menjadi nilai kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatan.
Ia mengaitkan gagasan itu dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang memandang pendidikan sebagai proses menuntun kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.
Dalam perspektif tersebut, deep learning menjadi sarana untuk menghadirkan kembali filosofi pendidikan yang berakar pada kodrat alam dan kodrat zaman.
Tiga Kemampuan Utama
Suyoto menjelaskan, pembelajaran mendalam membutuhkan tiga kemampuan penting.
Pertama, kemampuan mengenali diri sendiri, termasuk menyadari keterbatasan, kegelisahan, dan hal-hal yang belum diketahui. Menurutnya, proses belajar yang sejati berawal dari kerendahan hati untuk terus belajar.
Kedua, kemampuan memadukan kecerdasan buatan, kecerdasan manusia, dan kecerdasan spiritual. AI dapat membantu menyediakan informasi dengan cepat. Namun, manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan arah moral, makna hidup, dan tujuan pembelajaran.
Dalam konteks itu, ia mengutip pemikiran Muhammad Abed al-Jabiri mengenai tiga instrumen pengetahuan, yaitu bayani, burhani, dan irfani. Ketiganya perlu berjalan seimbang agar pendidikan tidak terjebak pada dogma maupun rasionalitas yang kehilangan makna.
Ketiga, kemampuan membangun komunikasi autentik. Menurutnya, pembelajaran mendalam harus melatih peserta didik untuk berkomunikasi secara jujur, benar, dan berpihak pada kemaslahatan bersama.
Joyful, Mindful, dan Meaningful
Suyoto mengajak seluruh pemangku kepentingan menyambut penerapan deep learning sebagai upaya membangun ekosistem belajar yang membahagiakan, mencerdaskan, dan bermakna.
Ia menilai keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum. Kepemimpinan sekolah, kualitas guru, dukungan orang tua, dan kemampuan memanfaatkan kehidupan sehari-hari sebagai laboratorium belajar juga memegang peran penting.
Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan lima kesadaran utama, yakni kesadaran sosial, spasial, digital, kesejarahan, dan spiritual.
Hadir di Semua Ruang Kehidupan
Suyoto menegaskan pembelajaran mendalam tidak boleh berhenti di ruang kelas. Konsep tersebut harus hadir di rumah, tempat ibadah, lingkungan kerja, hingga ruang digital.
“Deep learning menghidupkan kembali manusia yang utuh, yaitu manusia yang cakap secara intelektual serta matang secara moral, sosial, dan spiritual,” pungkasnya. (r7)





