Surabaya, (DOC) – Pameran Cross Musea Pertiwi 2026 telah resmi dibuka pada Selasa (2/6/2026). Acara yang berlangsung di Museum Dr. Soetomo, Kompleks Gedung Nasional Indonesia (GNI) ini berlangsung hingga 14 Juni 2026.
Gelaran senin ini, juga menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 dengan menghadirkan kolaborasi lintas museum untuk mengajak masyarakat menelusuri perjalanan hidup manusia sekaligus memahami akar budaya bangsa melalui pendekatan yang lebih interaktif dan imersif.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Herry Purwadi mengatakan bahwa pameran tahun ini, mengusung tema “Pertiwi – Penghormatan untuk Bumi Indonesia”.
“Pameran ini menyajikan narasi tentang hubungan manusia dengan tanah sebagai sumber kehidupan. Pengunjung diajak memahami bagaimana manusia lahir, tumbuh, membangun kehidupan, hingga kembali ke bumi melalui rangkaian koleksi, tradisi, dan artefak budaya yang diwariskan turun-temurun,” terangnya.
Berbeda dari pameran museum konvensional, Cross Musea Pertiwi memadukan koleksi sejarah dengan teknologi digital sehingga menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan generasi muda. Sejumlah instalasi interaktif, immersive room, teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga fitur foto interaktif bersama tokoh pergerakan nasional Dr. Soetomo menjadi daya tarik yang melengkapi perjalanan pengunjung dalam menjelajahi berbagai zona pameran.
Kolaborasi ini mempertemukan tiga institusi budaya, yakni Museum Etnografi Universitas Airlangga, Museum Mpu Tantular Sidoarjo, dan Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Ketiganya menghadirkan koleksi yang saling melengkapi untuk membangun narasi mengenai tradisi, identitas, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Nusantara dari masa ke masa.
Menurut Herry, pameran tersebut juga menampilkan berbagai ekspresi budaya Nusantara, mulai dari tradisi mitoni atau tujuh bulanan, khitanan, hingga koleksi wayang yang merepresentasikan perjalanan hidup masyarakat Indonesia.
“Kami berharap pameran ini dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah, budaya, dan perjuangan bangsa melalui museum sebagai ruang belajar yang menyenangkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Museum dan Gedung Seni Balai Budaya Kota Surabaya, Saidatul Ma’munah, menjelaskan bahwa pameran ini dirancang untuk menghidupkan kembali fungsi museum sebagai ruang edukasi publik yang inklusif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, tema Pertiwi dipilih karena mampu menghadirkan refleksi tentang perjalanan manusia dari kelahiran hingga kematian melalui berbagai ritual dan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Narasi tersebut kemudian diterjemahkan melalui koleksi, visualisasi digital, dan pengalaman interaktif agar lebih mudah dipahami oleh pengunjung, khususnya kalangan pelajar.
“Melalui penyajian berbasis visual dan teknologi, kami berharap pesan yang disampaikan museum dapat lebih mudah dipahami dan diingat oleh generasi muda,” tutur Saida sapaan akrabnya.
Selama pameran berlangsung, Pemkot Surabaya menargetkan keterlibatan aktif pelajar dengan mengundang sekitar delapan sekolah setiap hari. “Masing-masing sekolah mengirimkan 30 hingga 50 siswa untuk mengikuti tur edukatif dan berbagai aktivitas pembelajaran yang telah disiapkan,” terangnya.
Atas terselenggaranya acara ini, Perwakilan Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Yashika Sidik Pradhana, menyampaikan apresiasi kepada Pemkot Surabaya, tim kurator, serta seluruh museum dan mitra yang terlibat dalam penyelenggaraan Cross Musea Pertiwi 2026.
Menurutnya, tema Pertiwi menjadi ruang refleksi untuk memaknai kembali tanah air sebagai sumber peradaban dan identitas bangsa, sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam pelestarian budaya.
“Sinergi lintas museum ini menunjukkan bahwa museum bukan sekadar tempat menyimpan jejak masa lalu, melainkan juga ruang dialog yang dinamis. Melalui berbagai koleksi yang dipamerkan, pengunjung diajak memahami keberagaman budaya sekaligus merefleksikan hubungan manusia dengan alam, sejarah, dan kemanusiaan,” tutupnya.





