
Jakarta (DOC) – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengaku geram dengan kritik maupun sindiran terkait kebijakan penambahan utang pemerintah. Padahal apabila dilihat dari rasionya terhadap PDB, porsi utang pemerintah masih dalam batas aman.
Dirinya juga kerap disebut dengan ejekan-ejekan seperti Menteri Kasbon, Menteri Pencetak Utang, Ratu Utang, dan narasi negatif lainnya. Namun dengan beragam sindiran tersebut, Sri Mulyani mengaku kini tak mau ambil pusing.
Kata dia, selama ini masyarakat yang mengkritik kebijakan utang karena kurang teredukasi.
“Policy-nya harus bagaimana, instrumennya apa yang dipakai, caranya bagaimana, ngomong sama bisnis bagaimana, ngomong sama masyarakat bagaimana, edukasinya seperti apa,” kata Sri Mulyani, dikutip Jumat (21/7).
Sebagai informasi saja, utang pemerintah terbaru atau per Mei 2023 sebagaimana dikutip dari laman APBN KiTa edisi Juni 2023 adalah sebesar Rp 7.787 triliun. Jumlah utang pemerintah memang terus mengalami kenaikan pesat dari tahun ke tahun.
Merunut ke belakang, misalnya pada akhir tahun 2014 atau saat Presiden Joko Widodo baru menjabat, utang pemerintah berada di posisi Rp 2.608 triliun.
Artinya, dari awal menjabat hingga sekarang, utang pemerintah sudah bertambah Rp 5.179 triliun.
Sri Mulyani membeberkan, kenaikan utang pemerintah jangan hanya dilihat dari angka saja. Namun juga kebijakan pemerintah terkait penggunaan dari utang yang terus naik tersebut.
“Apakah menggunakan instrumen pajak atau instrumen subsidi, apakah menggunakan instrumen utang atau instrumen ekuitas, itu semuanya menjadi sangat konkrit,” ujar dia.
Sri Mulyani bilang, apabila dirinya maupun jajarannya di Kementerian Keuangan sibuk menjawab kritik soal penambahan utang, hal itu dianggapnya hanya membuang-buang waktu. Ini karena sebenarnya masih banyak masalah keuangan negara yang lebih kompleks dan harus segera diselesaikan.
Utang pemerintah pun selama dipakai untuk memaksimalkan pertumbuhan perekonomian nasional.
“Jadi kalau di ruangan Anda cuma bilang, ‘Bu Menteri Keuangan utang melulu,’ Anda sudah ketinggalan kereta jauh banget,” ucap mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu. (kc)