
Trenggalek, (DOC) – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, berpeluang besar menikmati energi yang lebih praktis, efisien, dan ramah lingkungan.
Kehadiran jaringan gas bumi (jargas) pipa kini disiapkan untuk mendukung sektor produksi kuliner khas daerah sekaligus memangkas ketergantungan nasional terhadap impor LPG.
Potensi strategis tersebut dimatangkan dalam agenda Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Pengaturan serta Pengawasan Gas Bumi Melalui Pipa yang digelar Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama Komisi XII DPR RI dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) di Trenggalek.
Solusi Hemat Energi Bagi Industri Keripik Tempe dan Alen-Alen
Area Head PGN Sidoarjo, Heri Frastiono, mengungkapkan bahwa Trenggalek memiliki potensi ekonomi lokal yang luar biasa dari sektor olahan makanan, seperti industri keripik tempe, alen-alen, dan beragam produk unggulan lainnya.
Selama ini, seluruh proses produksi tersebut sangat bergantung pada kepastian pasokan energi.
Melalui pipa jargas, para perajin makanan tak perlu lagi repot membeli atau membongkar-pasang tabung gas secara berkala. Selain menawarkan kepraktisan dan pembakaran yang lebih bersih, pemanfaatan gas bumi berpotensi menekan biaya operasional usaha.
“Bagi pelaku UMKM, ketersediaan energi yang andal dan berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kelancaran proses produksi dan pengembangan usaha,” terang Heri.
Ia menegaskan PGN sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah serta pemangku kepentingan guna mengkaji kelayakan infrastruktur dan potensi pelanggan di kawasan Trenggalek.
Tekan Impor LPG Nasional yang Tembus 7,5 Juta Ton
Pemanfaatan jargas di tingkat daerah tak sekadar urusan dapur warga atau UMKM, melainkan bagian dari langkah besar menyelamatkan postur anggaran negara.
Direktur Gas Bumi BPH Migas, Muhiddin, menjelaskan bahwa perluasan jargas rumah tangga dan UMKM merupakan strategi krusial untuk mengoptimalkan konsumsi gas bumi domestik.
“Dengan adanya program jargas ini, kita akan bisa menekan impor LPG yang sampai saat ini sudah mencapai 7,5 juta ton per tahun,” tegas Muhiddin, Jumat (16/10/2026).
Komisi XII DPR Dorong Percepatan Infrastruktur Mataraman
Menanggapi peluang tersebut, Anggota Komisi XII DPR RI, Sartono, menilai keberadaan jaringan gas pipa sangat vital untuk menjaga ketahanan energi, memicu daya saing industri lokal, serta memberikan kepastian investasi di daerah.
Sartono secara khusus mendorong percepatan pengembangan jargas di kawasan Mataraman, termasuk Trenggalek, agar manfaatnya dapat segera dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
“Peluang pembangunan jargas perlu dibahas lebih lanjut bersama kementerian dan lembaga terkait dengan mempertimbangkan potensi wilayah serta kebutuhan masyarakat,” ujar Sartono.
Meski demikian, seluruh pihak sepakat bahwa realisasi jargas di Trenggalek akan dibarengi kajian komprehensif mulai dari kesiapan pasokan sumber gas, keekonomian pembangunan jaringan pipa, hingga kepastian jumlah pelanggan agar proyek energi ini berjalan andal dan berkelanjutan.





