
Jakarta,(DOC) – Tiga anak yatim-piatu yang tinggal dilereng perbukitan terpencil, wilayah Banjar Muntigunung Tengah, Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem Bali, mendapat intervensi Kementerian Sosial RI melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Anak “Paramita” di Mataram.
Ketiga anak yang tinggal sendiri tersebut, bernama Komang Desi(16), Ketut Pait(13) dan I Wayan Dika (7).
Respon UPT Balai Anak “Paramita” di Mataram ini, merupakan tindaklanjut intruksi Menteri Sosial (Mensos), Tri Rismaharini, yang meminta setiap balai harus bertindak cepat terhadap Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang ditemukan di tengah masyarakat.
Komang Desi, kepada tim Balai, mengaku, bahwa sejak sepeninggalan kedua orang tua nya, mereka terpaksa mengurus keperluannya sendiri, mulai memasak, makan dan merawat adik terkecilnya yang belum bersekolah.
Didampingi Kabid Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kabupaten Karangasem, I Wayan Sukerena, tim Balai menyimpulkan, ketiga anak yatim-piatu ini, membutuhkan orang tua asuh.
Selain itu, berdasarkan hasil asesmen TKSK dan Sakti Peksos, anak-anak ini juga memerlukan perlengkapan tempat tidur, peralatan dapur, pakaian sekolah, pakaian sehari-hari, dan sembako.
Kepala Balai Anak Paramita, I Ketut Supena, menyatakan, ketiga anak ini, sudah terdaftar sebagai peserta Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Kartu Indonesia Sehat (KIS) bantuan pemerintah, bedah rumah tahun 2011-2012, serta program Desaku Menanti pada 2018.
Tim balai telah memastikan kondisi anak-anak tersebut, dan berusaha memberi alternatif solusi.
“Tim balai sudah bertemu sepupu dari ketiga anak dan dia merasa memiliki tanggung jawab pengasuhan dan pengawasannya. Ini penting karena mereka membutuhkan sosok pengganti orang tua,” ujar Supena.
Tim Balai memberikan bantuan dari program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) Anak, berupa beras 25 kg, 3 kotak susu 400 gr, 3 minyak goreng, 3 bungkus biskuit, 1 ember, 1 lusin gelas, 1 termos, 1 wajan, 1 spatula, 1 panci, setengah lusin jembung, setengah lusin piring, 1 lusin gorengan, serta 1 talenan.
“Kami berterima kasih kepada Balai yang sudah perhatian dan memberi bantuan makanan dan peralatan memasak. Ini sangat membantu kebutuhan hidup saya sehari-hari, ” kata Komang Desi terharu.
Dari peristiwa terlantarnya tiga anak tersebut, negara hadir melalui Kementerian Sosial dalam mengembalikan modal sosial sebagai kekuatan bangsa agar selalu saling peduli dan berbagi serta bertoleransi.
Sesuai peraturan dan perundang-undangan, bahwa setiap anak Indonesia mempunyai hak mendapatkan perlindungan dan diselamatkan dari keterlantaran. Mereka termasuk aset untuk menjaga NKRI ke depan.(robby/hm)




