
Plt Kepala Dishub, Trio Wahyu Bowo saat menunjukan inovasi rompi QRIS jukir resmi. (Foto: Pev)
Surabaya, (DOC) – Pemkot Surabaya terus menekan kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus meningkatkan pelayanan publik lewat digitalisasi parkir. Terbaru, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya meluncurkan inovasi berupa rompi smart parking yang dilengkapi kode QRIS untuk mempermudah sistem pembayaran non-tunai di titik-titik parkir.
Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya, Trio Wahyu Bowo, mengungkapkan bahwa inovasi rompi pintar ini menjadi solusi di lapangan. Sebanyak 900 Juru Parkir (Jukir) resmi di Surabaya kini dibekali dengan atribut tersebut.
Uniknya, kode QRIS diletakkan strategis di bagian saku dada jukir dengan pembagian tarif yang jelas. Sisi kanan rompi disiapkan khusus untuk pembayaran kendaraan roda dua (motor) senilai Rp2.000, sedangkan sisi kiri diperuntukkan bagi kendaraan roda empat (mobil).
“Waktu warga ingin bayar non-tunai melalui m-banking, tinggal scan saja barcode QRIS yang menempel di dada atau rompi jukir. Setelah sukses, tunjukkan buktinya ke petugas, lalu bisa langsung pergi. Jadi tidak ada alasan lagi handphone jukir mati atau tidak ada kuota,” jelas Trio, Sabtu (13/6/2026).
Papan Informasi Digital dan Opsi Pembayaran
Selain rompi QRIS, Dishub Surabaya juga meluncurkan sistem pengawasan baru berupa pemasangan papan informasi digitalisasi parkir. Papan rambu ini dilengkapi dengan foto jukir resmi yang bertugas di titik tersebut, sehingga warga bisa langsung memvalidasi legalitas petugas.
Trio menambahkan, rompi QRIS dan ponsel pintar bukanlah satu-satunya pilihan. Pemkot Surabaya berkomitmen menyediakan berbagi alternatif pembayaran non-tunai. Jukir resmi di lapangan juga telah difasilitasi mesin pembayaran untuk kartu uang elektronik (kartu tol) serta voucher parkir.
Ke depan, jangkauan distribusi voucher non-tunai ini akan diperluas demi kenyamanan masyarakat. “Kami tengah menjajaki kerja sama dengan jaringan toko ritel modern dan UMKM untuk penyediaan penjualan voucher parkir, sehingga masyarakat memiliki semakin banyak alternatif pembayaran non-tunai,” imbuhnya.
Warga Diimbau Berani Tolak Jukir Liar
Dengan hadirnya berbagai alternatif pembayaran digital dan upaya penertiban jukir, Trio meminta dukungan penuh dari warga Kota Pahlawan. Masyarakat diimbau untuk lebih jeli, kritis, dan berani menolak pembayaran jika menemukan kejanggalan atau ketidaksesuaian di area parkir.
“Kami meminta warga Surabaya, manakala melihat petugas parkir wajahnya tidak sesuai dengan foto yang ada di papan rambu, mohon untuk tidak dibayar. Jangan lakukan pembayaran,” tegas Trio.
Trio sangat mengharapkan warga mengutamakan jalur non-tunai (digital). Menurutnya, transparansi ini membawa dampak positif yang besar bagi kota, salah satunya menghapus prasangka atau aksi saling tuduh terkait aliran dana retribusi parkir.
Penerapan sistem digital ini juga diharapkan membawa dampak sosial yang lebih baik ke depan. Melalui data real-time, Dishub Surabaya kini dapat mengukur performa pendapatan harian setiap jukir secara akurat dan transparan.
“Pendapatan yang masuk secara sistematis akan kembali ke warga dalam bentuk pembangunan kota. Selain itu, jika performa pendapatan jukir masuk dalam kategori desil 1 sampai 5, kami akan memberikan intervensi atau perlakuan kesejahteraan khusus di akhir bulan,” terang Trio.
Saat ditanya mengenai dampak konkret kebijakan ini terhadap kas daerah, Trio optimis bahwa sistem baru ini berada di jalur yang tepat. “Alhamdulillah, digitalisasi parkir sudah berjalan dengan baik dan peningkatan PAD sudah mulai terlihat nyata,” tutupnya.




