Pangkas Jarak Sains dan Publik, ECOTON Pelopori Mobil Laboratorium Mikroplastik di Surabaya

Pangkas Jarak Sains dan Publik, ECOTON Pelopori Mobil Laboratorium Mikroplastik di Surabaya
ECOTON Pelopori Mobil Laboratorium Mikroplastik di Surabaya. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC)  Lembaga riset dan konservasi lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) resmi meluncurkan Mobil Laboratorium Mikroplastik di kawasan Kali Tebu, Kenjeran, Surabaya, Minggu (2/8/2026).

Inovasi laboratorium bergerak (mobile lab) ini dihadirkan untuk mendobrak dinding eksklusivitas penelitian ilmiah, sekaligus merespons makin masifnya ancaman pencemaran mikroplastik yang kini telah menembus rantai makanan hingga organ tubuh manusia.

Bacaan Lainnya

Selama ini, uji sampel mikroplastik dan nanoplastik  hanya terkurung di dalam dinding laboratorium formal. Akibatnya, isu kritis ini sering kali terasa abstrak bagi masyarakat umum.

“Masyarakat selama ini hanya mendengar istilahnya, tapi belum tahu bentuk aslinya, dari mana asalnya, dan bagaimana partikel itu masuk ke tubuh kita,” ujar Pendiri ECOTON, Prigi Arisandi.

Melalui unit armada khusus ini, ECOTON memindahkan fasilitas penelitian langsung ke lapangan. Mobil laboratorium ini dilengkapi peralatan presisi untuk memperagakan pengambilan sampel air maupun tanah, penyaringan, hingga identifikasi visual partikel mikroplastik secara real-time.

“Kami ingin membawa ilmu pengetahuan lebih dekat ke publik. Pelajar dan generasi muda perlu melihat langsung bukti pencemaran ini agar tumbuh kesadaran untuk memangkas penggunaan plastik sekali pakai sejak dini,” tambah Prigi.

Kepala Laboratorium ECOTON, Rafika Aprilian, menegaskan bahwa kehadiran mobil laboratorium ini akan memangkas rantai logistik penelitian riset lapangan. ECOTON kini dapat memeriksa sampel dan menggelar edukasi interaktif di tempat tanpa harus memboyong peserta ke laboratorium pusat.

Ke depan, armada edukasi berbasis bukti (evidence-based education) ini disiap meluncur ke berbagai sekolah, kampus, hingga komunitas lokal di berbagai penjuru Indonesia.

Manajer Edukasi dan Kampanye ECOTON, Alaika Rahmatullah (Alex), berharap pendekatan eksperiensial ini mampu memantik perubahan perilaku nyata di tingkat tapak.

“Ini bukan sekadar membawa mikroskop ke lokasi jauh, melainkan jembatan kesadaran publik. Kami ingin masyarakat tergerak memilah sampah dari rumah dan menjaga sungai,” kata Alex.

Baca Juga:  Jadi Alarm Kebijakan, Pemkot Surabaya Evaluasi Masalah Parkir Berdasarkan Pengaduan Warga

“Pengendalian mikroplastik membutuhkan aksi kolektif berbasis sains dari peneliti, pelajar, pemerintah, hingga media demi ekosistem yang berkelanjutan,” imbuhnya.

Pos terkait