Gandeng Pelajar SMPN 58 Surabaya, Ecoton Temukan Mikroplastik Cemari Air Kali Tebu dan Udara Sidotopo Wetan

Gandeng Pelajar SMPN 58 Surabaya, Ecoton Temukan Mikroplastik Cemari Air Kali Tebu dan Udara Sidotopo WetanSurabaya,(DOC) – Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) bersama Bumbi menggelar kegiatan edukasi lingkungan yang krusial. Sebab, mereka berhasil menemukan kandungan mikroplastik yang mencemari air Kali Tebu serta udara di kawasan Sidotopo Wetan.

Oleh karena itu, mereka menggelar sosialisasi tentang bahaya mikroplastik ini di SMPN 58 Platuk, Kecamatan Kenjeran, Surabaya. Selanjutnya, sebanyak 50 siswa kader lingkungan sekolah mengikuti kegiatan edukasi gaya hidup tanpa plastik sekali pakai ini dengan antusias.

Bacaan Lainnya

Pada dasarnya, agenda edukasi ini merupakan bagian dari program MOZAIK (Mission on Zero Plastic Leakage). Selain itu, Ecoton menginisiasi program kolaborasi multipihak tersebut demi mencegah kebocoran sampah plastik ke lingkungan dan ekosistem sungai.

Guru SMPN 58 Surabaya, Ika Karyanti, menyambut baik kegiatan riset lapangan ini. Menurutnya, pihak sekolah ingin anak-anak lebih peduli pada kelestarian alam sekitar mereka.

“Kegiatan penelitian di Kali Tebu yang menemukan mikroplastik kami harap bisa membuat anak-anak bisa lebih sadar terhadap dampak bahaya plastik sekali pakai. Dengan demikian, terbentuk kebiasaan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah bahkan juga di rumah. Ini juga sejalan dengan visi sekolah,” ujar Ika, Selasa (19/5/2026).

Kondisi Kali Tebu Sangat Memprihatinkan

Sementara itu, Perwakilan Ecoton, Alaika Rahmatullah, menyampaikan bahwa anak-anak harus terlibat aktif menjaga kebersihan sungai. Sebab, kondisi riil di Kali Tebu saat ini sudah masuk dalam tahap yang sangat memprihatinkan.

Sungai tersebut masih menghadapi persoalan serius akibat buangan sampah plastik, popok sekali pakai, hingga praktik pembakaran sampah. Oleh karena itu, tim Ecoton harus bekerja keras setiap hari untuk menjaga aliran air.

“Setiap hari tim kami juga berpatroli sekaligus mengevakuasi sampah-sampah di badan air sungai. Rata-rata, per hari kami mendapatkan 1 ton sampah sungai. Sampai saat ini, yang paling bermasalah adalah sampah plastik, popok, dan styrofoam,” tegas Alaika.

Baca Juga:  Wahana Perosotoan Air Kenpark Kenjeran Ambrol, Belasan Pengunjung Luka-luka

Kemudian, ia menjelaskan bahwa sampah-sampah besar tersebut lama-kelamaan akan terpecah menjadi partikel mikroplastik. Pada akhirnya, partikel beracun ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui air, udara, dan rantai makanan.

Tentu saja, dampak partikel ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Sebab, zat kimia di dalamnya dapat memicu gangguan hormon, peradangan, gangguan reproduksi, hingga risiko penyakit kanker.

Hasil Praktikum: Mikroplastik Menyebar di Air dan Udara

Mengenai proses risetnya, para siswa melakukan praktikum lapangan untuk menguji sampel lingkungan. Selanjutnya, mereka mengambil sampel air sebanyak 10 liter pada masing-masing titik. Sementara itu, petugas mengambil sampel udara selama 2 jam menggunakan metode passive sampling.

Namun, hasil identifikasi laboratorium justru menunjukkan fakta yang mengejutkan. Sebab, partikel mikroplastik telah menyebar luas di lingkungan sekitar sekolah dan sungai melalui rincian berikut:

  • Sampel Air Kran (10 Liter): Petugas menemukan 2 partikel filamen dan 2 partikel fiber di dalam air.
  • Daun Mangga Sekolah: Tim menemukan 8 partikel fiber yang menempel akibat paparan udara luar.
  • Udara Lingkungan Sekolah: Riset menangkap 6 partikel fiber selama pengujian 2 jam.
  • Udara Sekitar Kali Tebu: Tim mendeteksi total 8 partikel mikroplastik (1 fragmen, 6 fiber, dan 1 granule).
  • Air Sungai Kali Tebu (10 Liter): Lokasi ini mencatat rekor tertinggi dengan temuan 19 partikel mikroplastik (12 fiber, 2 filamen, dan 5 fragmen).

Kesimpulannya, temuan mengerikan ini menunjukkan bahwa ancaman mikroplastik sudah berada di sekitar warga. Oleh karena itu, Ecoton dan Bumbi mengajak masyarakat luas untuk segera mengubah gaya hidup. Mari kita perkuat budaya guna ulang (reuse) demi menjaga kelangsungan sumber kehidupan.(r7)

Pos terkait