80 Persen Ikan di Kali Surabaya Betina, Ecoton Soroti Ancaman Paparan Limbah

80 Persen Ikan di Kali Surabaya Betina, Ecoton Soroti Ancaman Paparan Limbah
80 Persen Ikan di Kali Surabaya Betina, Ecoton Soroti Ancaman Paparan Limbah. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC) – Ekosistem Kali Surabaya berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Hasil pengamatan Yayasan Lahan Basah (Ecoton) mengungkapkan adanya ketidakseimbangan populasi biota air yang drastis, di mana 80 persen ikan yang berhasil dijala berjenis kelamin betina.

Fenomena dominasi kelamin betina ini menjadi indikasi kuat terjadinya feminisasi biota air akibat pencemaran berat. Peneliti Ecoton, Prigi Arisandi, menegaskan bahwa dalam kondisi ekosistem yang sehat, rasio ideal antara ikan jantan dan betina seharusnya seimbang. “80 persen ikan yang dijala betina, harusnya 50:50,” ujar Prigi, Senin (14/9/2026).

Bacaan Lainnya

Prigi menjelaskan, ketimpangan populasi ini dipicu oleh masuknya berbagai bahan pencemar ke aliran sungai. Sumber pencemaran tersebut berasal dari kombinasi limbah cair industri, limbah domestik permukiman, hingga mikroplastik dan sampah popok.

Limbah cair industri menyumbang senyawa kimia berbahaya seperti logam berat, nitrat, nitrit, dan fosfat. Sementara itu, kawasan permukiman termasuk permukiman liar di sepanjang bantaran turut membuang limbah cair rumah tangga tanpa pengolahan yang memadai.

“Banyak pemukiman liar yang buang limbah cair dari kamar mandi, toilet, dan laundry,” ungkapnya.

Secara teknis, zat kimia yang berasal dari limbah rumah tangga (seperti detergen) serta sampah plastik bertindak sebagai Endocrine Disrupting Chemicals (EDC) atau senyawa pengganggu hormon. Paparan racun ini merusak sistem hormonal dan proses reproduksi biota sungai secara mendasar.

Persoalan ini krusial mengingat ikan melakukan pembuahan secara eksternal, di mana sel telur dan sperma dilepaskan langsung ke dalam air. Keberadaan senyawa kimia pencemar yang terserap di perairan bekerja menyerupai hormon estrogen buatan.

“Cairan limbah dianggap ikan sebagai estrogen yang memengaruhi terbentuknya kelamin betina,” jelas Prigi.

Temuan ini menjadi sinyal bahaya bagi keberlanjutan populasi ikan dan keanekaragaman hayati di Kali Surabaya. Fenomena ini juga membuktikan bahwa ancaman kerusakan sungai tidak hanya diukur dari perubahan warna atau bau air secara kasatmata, melainkan dari tingginya paparan bahan kimia tak kasat mata yang merusak generasi biota di dalamnya.

Pos terkait