Lumajang, (DOC) – Menteri Sosial Tri Rismaharini menilai bahwa peristiwa erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur kemungkinan sebagai dampak dari pemanasan global atau global warming. Apalagi menurutnya, dampak dari pemanasan global itu sendiri telah banyak memicu terhadap perubahan iklim di bumi.
“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Semua harus siap. Karena memang dampak global warming ini luar biasa,” kata Mensos Risma saat berkunjung ke Kabupaten Lumajang, Senin (18/1/202) lalu.
Apa yang disampaikan Risma itu bukan tanpa alasan. Sebab, selama menjabat Wali Kota Surabaya, Risma tercatat delapan kali mengikuti forum skala dunia yang membahas terkait isu lingkungan dan dampak global warming. Bahkan, dalam beberapa forum yang diikuti Risma, ia didapuk sebagai keynote speaker bersanding dengan para pemimpin dari berbagai negara di dunia.
Pada tanggal 2 Juni 2015, saat masih menjabat Wali Kota Surabaya, Risma bersama Ahmed Aboutaleb (Wali kota Rotterdam – Belanda) dan Adriana Krnacova (Wali kota Praha – Republik Ceko), menjadi pembicara dalam forum OECD FORUM yang berlangsung di Paris, Perancis.
“OECD Forum 2015, diadakan oleh OECD untuk mengumpulkan masukan, informasi, tanggapan, dari tokoh, pimpinan pemerintahan, akademisi, politikus, pengusaha, dan kalangan civil society dari berbagai negara. Paparan dan dialog dari berbagai narasumber kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi OECD ke depannya,” kata Risma saat itu.
Kemudian, pada 2 September 2016, Risma berkesempatan menjadi pembicara pada Seoul Mayors Forum on Climate Change yang berlangsung di Seoul, Korea Selatan. Saat itu, ia menjadi keynote speaker pada sesi dengan topik “Pendanaan Aksi Lokal” dalam kaitannya dengan upaya-upaya penanganan perubahan iklim.
“Kegiatan Seoul Mayors Forum 2016 berfokus pada isu penanganan masalah perubahan iklim dengan mengundang para kepala daerah dari berbagai negara, perwakilan organisasi internasional, serta pakar lingkungan hidup,” ungkap dia.
Menariknya, dalam forum tersebut, para panelis ini terdiri dari wali kota dan pejabat yang berasal dari berbagai negara. Yakni, Noel Rosal (Wali kota Legapzi, Filipina), Jianlong Xu (Wakil Walikota Gui-an, China), Leyla Hussein Madibi (Konselor Tanzania), serta Diego Enriquez (Direktur Perubahan Iklim Quito, Ekuador).
Selanjutnya pada 18 Mei 2017, Mensos Risma pernah menjadi pembicara dalam kegiatan peluncuran “New Plastics Economy Innovation Prize” yang diselenggarakan oleh Ellen Macarthur Foundation dan Prince of Wales’ International sustainability Unit (ISU) yang berlangsung di London, Inggris. ISU sendiri merupakan lembaga dibawah naungan Yayasan Prince Charities yang dipimpin oleh Pangeran Charles yang juga berkesempatan untuk hadir
“Saat itu Pangeran Charles memberikan sambutan dan mengingatkan tentang tantangan berat yang dihadapi umat manusia karena akumulasi dari sampah plastik saat ini berpotensi merusak lingkungan terutama ekosistem laut,” ungkap Risma.
Di tahun yang sama, pada 27 Juni 2017, Mensos Risma menghadiri pertemuan anggota Dewan Global Covenant of Mayors for Climate and Energy (GcoM) yang berlangsung di Brussel, Belgia. Saat itu, para wali kota anggota dewan GCoM yang hadir di antaranya, Kasim Reed, (Wali kota Atlanta – USA), Patricia de Lille, (Wali kota Cape Town – Afrika Selatan), Gregor Robertson (Wali kota Vancouver – Kanada), serta Patrick Klugman, (Wakil Wali kota Paris – Perancis).
“Visi dan Misi GcoM pada prinsipnya mengharapkan pemerintah daerah dan para wali kota berkomitmen untuk melakukan inisiatif-inisiatif yang terukur untuk menuju pembangunan yang inklusif, adil, rendah emisi, serta berketahanan untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan pada Perjanjian Paris,” terang Risma.
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas bahwa GCoM akan mendampingi para wali kota dalam upaya-upaya penanganan perubahan iklim yang dilakukan serta akan membuat metodologi pengukuran yang kompatibel dengan Perjanjian Paris.
Selanjutnya, pada 29 Juni 2017 saat acara “The World Materials Forum” di Nancy – Perancis, Risma menjadi pembicara tunggal pada sesi Societal Presentation. World Materials Forum sendiri merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan untuk membahas tentang inovasi-inovasi dalam menciptakan produk/inisiatif ramah lingkungan.
Di antara hal-hal yang dipaparkan Risma saat itu adalah bahwa konsep pembangunan Kota Surabaya menuju kota hijau memiliki delapan pilar, yaitu Perencanaan dan Desain Hijau, Bangunan Hijau, Transportasi Hijau, Masyarakat Hijau, Sampah Hijau, Air Hijau, Energi Hijau, serta Ruang Terbuka Hijau.
Sedangkan para ahli dan CEO lain yang hadir, masing-masing membahas tentang inovasi penciptaan dan penggunaan material baru yang lebih ramah lingkungan dalam berbagai bentuk. Paparan Risma saat itupun mendapatkan apresiasi hingga dimuat dalam media lokal “Les Republicains”.
Lalu, pada 26 September 2018, Mensos Risma pernah menjadi pembicara pada sesi diskusi panel pertama dengan tema “Sharing Solutions to Deliver Local, National, and Global Climate Action” di forum One Planet Summit.
Forum yang berlangsung di New York, Amerika Serikat tersebut, membahas tentang strategi menangani dampak perubahan iklim serta Perjanjian Paris. One Planet Summit 2018 diselenggarakan bersamaan dengan Sidang Umum PBB di Kota New York dan didukung oleh Sekretaris Jenderal PBB, Presiden Perancis, serta Presiden Bank Dunia.
“One Planet Summit menjadi pertemuan terbesar di luar Sidang Umum PBB karena dihadiri oleh lebih dari 30 kepala negara dan pimpinan organisasi internasional. Kegiatan dibuka oleh Presiden Perancis, Emmanuel Macron,” kata Risma.
Tak hanya itu, pada 19 Februari 2019, Risma tercatat pernah hadir dan menjadi pembicara dalam sesi kedua pada forum “From Global Issues to Local Priorities: The Role of Cities in the Global yang diadakan di New York, Amerika Serikat. Ketika itu Risma bersanding dengan Wali Kota Valencia, Gubernur Nairobi, serta profesor Universitas Pennsylvania.
Perempuan yang sebelumnya menjabat Wali Kota Surabaya ini mengungkapkan, pada sesi pembukaan, Presiden Sidang Umum PBB menyampaikan bahwa kota-kota saat ini menghadapi tantangan yang sama. Yakni, membutuhkan solusi multilateral. Sebab, hubungan antara perubahan iklim, ketahanan pangan, serta aksi kota menjadi penting untuk mewujudkan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan serta Perjanjian Paris.
“Dalam konteks ini, beliau (Presiden Sidang Umum PBB, red) meminta para pemerintah daerah untuk senantiasa mengacu pada SDGs dalam merancang pembangunan perkotaan,” papar Risma
Di tahun yang sama pula Mensos Risma pernah menghadiri “High Level Political Forum” yang berlangsung di New York, Amerika Serikat pada 23-25 September 2019 lalu. Saat itu Risma bersama jajarannya menghadiri empat sesi dalam kerangka forum pada periode berlangsungnya sidang umum PBB di Markas Besar PBB.
Empat kerangka forum yang diikuti Risma pertama adalah Climate Action Summit. Kerangka ini merupakan pertemuan tingkat tinggi yang diselenggarakan oleh Sekretaris Jenderal PBB pada tanggal 23 September 2019.
“Pertemuan tersebut membahas tentang upaya-upaya yang dilakukan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam merespon dampak dari perubahan iklim serta untuk mendorong komitmen akan Perjanjian Paris,” katanya.
Menariknya, saat itu Risma hadir sebagai pembicara bersama dengan Presiden Turki, Presiden Kenya, Gubernur Maine, serta perwakilan dari European Investment Bank.
Kerangka forum kedua yang dihadiri Risma adalah “World Economic Forum Sustainable Development Impact Summit 2019” diadakan pada tanggal 24 September 2019. Forum tersebut menghadirkan para pemangku kepentingan, pemerintah pusat maupun daerah, kalangan bisnis, serta masyarakat sipil untuk membahas upaya peningkatan aksi lokal terkait perubahan iklim dan perwujudan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Risma berpartisipasi sebagai salah satu pembicara bersama dengan Direktur Eksekutif UN Habitat, Wali Kota Riyadh, Wali Kota Helsinki, serta perwakilan dari berbagai institusi lainnya.
Kemudian, pada kerangka forum ketiga, Mensos Risma mengikuti forum UCLG World menginisiasi penyelenggaraan Local and Regional Governments. Forum ini dipimpin oleh Menteri Perencanaan Ekonomi dan Pembangunan Regional Republik Kamerun serta Sekretaris Jenderal Menteri Perencanaan Pembangunan Maroko.
Sementara pada kerangka forum keempat, Risma sempat menghadiri undangan Presiden Sidang Umum PBB, Maria Fernanda Espinosa Garces. Ketika itu, Risma berpartisipasi pada Leaders Dailogue yang membahas upaya melokalkan SDGs di tingkat daerah.
Risma hadir sebagai pembicara bersama tujuh Kepala Negara serta perwakilan dari berbagai institusi. Dalam forum ini, Risma menyampaikan paparannya mengenai inisiatif yang telah dilakukannya saat menjabat Wali Kota Surabaya dalam melokalkan SDGs. “Inti dari pembangunan bukan saja bertumpu pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pembangunan sosial dan manusia,” jelasnya. (R7)