Harga Plastik Global Naik, Tekan Biaya Hidup dan Industri Dalam Negeri

Harga Plastik Global Naik, Tekan Biaya Hidup dan Industri Dalam NegeriSurabaya,(DOC) – Kenaikan harga bahan baku plastik di pasar global mulai menekan biaya hidup masyarakat dan membebani pelaku industri di Indonesia. Dampaknya meluas, dari produsen makanan hingga pedagang kecil yang bergantung pada kemasan plastik.

Peneliti Pusat Kajian Sosioekonomi Indonesia Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rumayya Batubara, menilai plastik kini menjadi komoditas strategis yang sensitif terhadap inflasi, bahkan mendekati peran bahan bakar minyak (BBM).

Bacaan Lainnya

Menurut Rumayya, penggunaan plastik yang masif mendorong kenaikan harga cepat merambat ke berbagai sektor, terutama industri makanan dan minuman (F&B). Di sektor ini, pelaku usaha menempatkan kemasan sebagai salah satu komponen biaya terbesar.

“Dalam industri F&B, biaya kemasan bahkan bisa melampaui isi produknya, mencapai hingga 50 persen dari total biaya produksi,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Dampak Global ke Dalam Negeri

Rumayya menjelaskan, dinamika global memicu lonjakan harga plastik. Konflik di Timur Tengah mengganggu rantai pasok, sementara pembatasan jalur distribusi seperti Selat Hormuz dan fluktuasi harga minyak mentah memperparah kondisi.

Indonesia juga masih bergantung pada impor bahan baku plastik. Sekitar 60 persen kebutuhan nasional berasal dari luar negeri, sehingga setiap kenaikan harga global langsung memukul pasar domestik.

Rumayya menilai kondisi ini menjadi “hantaman ganda” bagi pelaku usaha, terutama UMKM. Kenaikan harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah sama-sama mendorong biaya produksi naik tajam.

“Ada dua tekanan besar, yakni kenaikan harga bahan baku berbasis minyak dan pelemahan kurs. Keduanya mendorong lonjakan biaya produksi secara signifikan,” jelasnya.

Dorong Kebijakan dan Diversifikasi

Rumayya mendorong pemerintah segera menyiapkan kebijakan fiskal untuk meredam dampak jangka pendek. Pemerintah bisa menyesuaikan PPN atau memberi keringanan bea impor bagi industri terdampak.

Di sisi lain, pelaku industri perlu memperluas sumber impor. Mereka bisa melirik negara seperti China yang mengembangkan industri petrokimia berbasis batubara.

Baca Juga:  Lantik Pengurus Baru HIPMI Surabaya, Cak Eri: Sinergi Kita Bisa Lebih Kuat Lagi

Momentum Kemandirian Industri

Dalam jangka panjang, Rumayya melihat kondisi ini sebagai momentum memperkuat kemandirian industri kemasan nasional. Ia menilai Indonesia masih bergantung pada impor, meski mendorong swasembada di sektor lain.

Rumayya juga mendorong pengembangan bioplastik berbasis sumber daya lokal. Limbah seperti kulit udang, sisa ikan, dan kulit singkong berpotensi menjadi bahan baku alternatif yang ramah lingkungan.

“Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bioplastik sebagai solusi jangka panjang,” ujarnya.

Peran Koperasi dan Perubahan Konsumsi

Untuk menjaga daya beli, Rumayya meminta pemerintah memperkuat peran koperasi sebagai penyangga harga. Melalui skema pembelian kolektif, koperasi bisa membantu menekan biaya distribusi.

Ia juga mengajak masyarakat mengubah pola konsumsi. Masyarakat dapat beralih dari kemasan sekali pakai ke pembelian dalam jumlah besar yang bisa digunakan ulang.

“Peran koperasi perlu diperkuat sebagai buffer agar harga tetap terjangkau dan tekanan terhadap masyarakat tidak semakin besar,” pungkasnya.(ode/r7)

Pos terkait