Surabaya,(DOC) – Kenaikan harga avtur pada awal April 2026 mulai memberi tekanan serius terhadap industri penerbangan. Dampaknya tidak hanya dirasakan maskapai, tetapi juga merembet ke sektor pariwisata dan ekonomi daerah, termasuk di Jawa Timur.
Data menunjukkan, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta berada di kisaran Rp23.551 per liter. Angka ini memang masih lebih rendah dibandingkan Thailand dan Filipina, namun avtur tetap menjadi komponen terbesar dalam biaya operasional maskapai, dengan porsi sekitar 40 persen.
Kondisi tersebut membuat maskapai berada dalam dilema. Biaya operasional meningkat, sementara penyesuaian harga tiket hampir tidak bisa dihindari.
Kenaikan tarif tiket pesawat berpotensi memicu efek berantai. Sektor pariwisata bisa tertekan, pertumbuhan ekonomi melambat, hingga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Aktivitas perdagangan yang bergantung pada transportasi udara juga berisiko ikut terganggu.
Untuk meredam dampak tersebut, pemerintah pusat menyiapkan sejumlah langkah. Di antaranya penyesuaian fuel surcharge sebesar 38 persen untuk pesawat jet dan propeler, serta skema kelonggaran pembayaran avtur melalui kerja sama business-to-business (B2B).
Selain itu, pemerintah juga menanggung PPN 11 persen untuk tiket pesawat domestik kelas ekonomi. Langkah ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat.
Pemerintah juga mengalokasikan subsidi sekitar Rp1,3 triliun per bulan guna menekan kenaikan harga tiket di kisaran 9 hingga 13 persen. Di sisi lain, pembebasan bea masuk nol persen untuk suku cadang pesawat diterapkan untuk menekan biaya operasional sekaligus mendukung industri maintenance, repair, and overhaul (MRO) nasional.
Seluruh kebijakan ini berlaku sementara dan akan dievaluasi secara berkala, menyesuaikan kondisi geopolitik global dan fluktuasi harga energi.
Di sisi lain, kenaikan harga tiket diperkirakan akan mengubah pola perjalanan masyarakat. Wisatawan cenderung lebih selektif dalam memilih destinasi dan anggaran perjalanan.
Destinasi yang bisa dijangkau melalui jalur darat diprediksi akan mengalami peningkatan kunjungan. Sebaliknya, destinasi yang bergantung pada transportasi udara berpotensi mengalami penurunan.
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Aulia Hany Mustikasari, menilai kondisi ini perlu diantisipasi secara serius.
“Kenaikan tiket pesawat bisa berdampak pada UMKM dan aktivitas ekonomi. Pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah konkret agar dampaknya bisa diminimalkan,” ujarnya, Minggu (12/4).
Bagi masyarakat, kondisi ini menjadi pengingat untuk merencanakan perjalanan dengan lebih matang. Di tengah ketidakpastian harga energi global, biaya transportasi udara berpotensi terus berfluktuasi. (r6)





