Samarinda,(DOC) – Anggaran laundry senilai Rp 450 juta di lingkungan rumah jabatan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) kembali ramai diperbincangkan. Sempat muncul anggapan bahwa dana tersebut hanya untuk mencuci pakaian Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) Kaltim.
Pemprov Kaltim mengklarifikasi bahwa anggaran tersebut bukan hanya untuk laundry pakaian gubernur dan wakil gubernur. Di balik angka Rp 450 juta itu, terdapat kebutuhan operasional enam gedung besar, guest house VIP hingga fasilitas rumah jabatan yang hampir setiap hari dipakai kegiatan.
Plt Kepala Biro Umum Setda Kaltim Astri Intan Nirwangi mengatakan, polemik itu muncul karena publik hanya membaca judul item pengadaan di Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP).
“Yang dibaca orang kan cuma laundry pakaian kepala daerah Rp 450 juta. Padahal kalau dibuka rinciannya, itu bukan hanya pakaian. Di situ ada karpet, gorden, sprei, bed cover, cover meja jamuan, cover kursi jamuan dan perlengkapan operasional lainnya,” ujar Astri, dikutip Jumat (8/5/2026).
Ia menjelaskan, item belanja tersebut digunakan untuk menunjang operasional berbagai fasilitas milik Pemprov Kaltim yang dikelola Biro Umum. Terlebih sejak kebijakan efisiensi diterapkan, banyak kegiatan pemerintahan yang dipindahkan dari hotel ke kawasan rumah jabatan gubernur.
“Sekarang kegiatan OPD, kegiatan keagamaan, organisasi masyarakat, hampir semua banyak dilaksanakan di rumah jabatan dan gedung-gedung yang kami kelola. Jadi otomatis operasionalnya juga meningkat,” katanya.
Astri menyebut kawasan rumah jabatan gubernur bukan hanya satu bangunan rumah dinas. Di dalamnya terdapat pendopo, guest house, ruang VIP hingga musala yang hampir setiap hari dipakai masyarakat maupun tamu pemerintahan.
“Di musala itu setiap hari ada pengajian, majelis taklim, dipakai salat juga sama masyarakat dan ASN. Di situ ada mukena, sajadah, karpet yang rutin harus dicuci,” ujarnya.
Aktivitas di guest house dan ruang VIP juga disebut nyaris tidak pernah berhenti. Astri mengungkapkan sejumlah pejabat nasional hingga kepala daerah dari luar Kalimantan pernah menggunakan fasilitas tersebut.
“Guest house itu ada 10 kamar dan hampir tiap hari dipakai tamu. Menteri, gubernur, tamu pemerintah provinsi banyak yang transit atau menginap di sana,” tuturnya. (rd)





