Kampung Pancasila Surabaya, Wujud Inovasi Lingkungan dan Ekonomi Warga

Kampung Pancasila Surabaya, Wujud Inovasi Lingkungan dan Ekonomi WargaSurabaya,(DOC) – Di tengah kepadatan Kota Surabaya, Kampung Tambak Segaran RW 3, Kelurahan Tambakrejo, memancarkan suasana hijau dan asri yang menenangkan.

Keindahan tersebut bukan sekadar pemandangan, melainkan wujud nyata penerapan nilai-nilai Pancasila yang tertanam dalam kehidupan warganya.

Bacaan Lainnya

Program Kampung Pancasila di kawasan ini tidak hanya sebatas nama, tetapi diwujudkan melalui berbagai inovasi berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, pendidikan, hingga keamanan.

Ketua RT 3 Tambak Segaran, Tjuk Sumardi, menyampaikan bahwa berbagai program yang digagas dalam Kampung Pancasila sejatinya sudah lama diterapkan oleh warga.

Instalasi Pengelohan Limbah“Semua program yang digagas dalam Kampung Pancasila sudah ada di sini. Barometernya ada di Tambak Segaran RW 3,” ujar Tjuk Sumardi, Selasa (14/10/2025).

Lima Klaster Inovasi Warga

Menurutnya, penerapan nilai-nilai Pancasila di wilayahnya diwujudkan melalui lima klaster dalam inisiatif “Kampung Arek Suroboyo”, yaitu Kampung Aman, Kampung Inovatif, Kampung Belajar, Kampung Asuh, dan Kampung Sehat.

Setiap RT memiliki fokus program yang saling terintegrasi dan menjunjung semangat gotong royong. Di RT 3, misalnya, warga telah menciptakan sejumlah terobosan unik untuk mendukung kehidupan sehari-hari.

“Kami memiliki panel surya untuk energi, sumber listriknya digunakan untuk pompa instalasi hidroponik dan penerangan lampu hias,” terang Tjuk.

Inovasi Ramah Lingkungan dan Ekonomi

Salah satu inovasi unggulan warga adalah Instalasi Pengolah Limbah Cair Rumah Tangga (IPLC RT). Sistem ini mengolah limbah rumah tangga menjadi air penyemprot untuk mengikat asap rokok. Inovasi tersebut bahkan telah menjadi percontohan di puluhan kelurahan lain di Surabaya atas permintaan Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

Selain itu, puntung rokok yang dikumpulkan warga diolah kembali menjadi pestisida alami, melengkapi konsep pengelolaan sampah terpadu yang dijalankan warga.

Warga juga aktif dalam urban farming. Di rooftop rumah dan area greenhouse berukuran 7×10 meterpersegi, mereka menanam cabai, terong, dan sayuran organik yang hasilnya dijual ke warga sekitar.

Baca Juga:  Eri Cahyadi dan Armuji Jalani Pemeriksaan Kesehatan

“Panennya kami jual kepada warga, keunggulannya non-pestisida,” tambah Tjuk.

Sentuhan Pendidikan dan Sosial

Program Kampung Pancasila di RT 3 tidak hanya fokus pada lingkungan, tetapi juga pendidikan dan sosial. Setiap Sabtu sore, jalan kampung ditutup dan digelar “karpet bermain” bagi anak-anak agar mereka dapat bermain bersama di bawah pengawasan orang tua, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap gawai.

Selain itu, warga sepakat menerapkan aturan “jam belajar malam” pukul 18.00–21.00 WIB, di mana anak-anak tidak diperbolehkan bermain di luar rumah.

“Saya memantau langsung dan mengingatkan warga lewat pengeras suara jika masih ada anak yang bermain di luar,” ungkapnya.

Gotong Royong Warga dan Dukungan Aparat

Tjuk menambahkan, keberhasilan Kampung Pancasila tidak lepas dari partisipasi masyarakat serta dukungan aparat seperti Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan Polisi RW.

“Kami melakukan semua program dengan semangat dari masyarakat untuk masyarakat. Budaya gotong royong ini menjadi teladan bagi anak-anak di Tambak Segaran,” ujarnya.

Kampung Pancasila Puspa Mandiri: Dari Sampah Jadi Nilai Ekonomi

Semangat serupa juga terpancar di RW 3 Kelurahan Bubutan, yang dikenal sebagai Kampung Pancasila Puspa Mandiri. Di wilayah ini, warga mengembangkan inovasi Rumah Bank Sampah dan Rumah Cacing Puspa Mandiri.

kampung pancasila “Program ini menjadi wadah pengolahan sampah organik menjadi kompos, serta rumah cacing untuk pakan ternak dan obat tradisional,” jelas Camat Bubutan Ferdhie Ardiansyah.

Ia menambahkan, lokasi bank sampah dan rumah cacing memanfaatkan aset Pemkot Surabaya yang sebelumnya digunakan untuk sekolah.

“Pendirian ini bukti gotong royong warga bahu-membahu menciptakan program bermanfaat. Dari warga untuk warga,” lanjutnya.

Sampah kampung pancasilaFasilitator Kader Lingkungan, Ismuninggar, menyebut bahwa keberadaan bank sampah menjadi sarana edukasi warga dalam memilah sampah sejak dari rumah.

“Kemarin terkumpul satu ton sampah dan dijual Rp600 ribu, masuk kas warga,” ujarnya.

Lebih jauh, rumah cacing bahkan telah membantu penyembuhan warga yang menderita penyakit tipes.
“Ada warga yang sembuh setelah mengonsumsi cacing hasil budidaya ini,” tambahnya.

Empat Pilar Kampung Pancasila

Ketua Satgas Kampung Pancasila Kota Surabaya, Irvan Widyanto, menjelaskan bahwa Kampung Pancasila dibangun atas empat pilar utama: lingkungan, ekonomi, kemasyarakatan, dan sosial budaya.

Baca Juga:  DPRD Bersama Warga Surabaya Bersatu Doakan Kemerdekaan Palestina dalam Aksi Damai

“Contohnya, urban farming di sektor lingkungan berhubungan dengan ekonomi sebagai alternatif pangan. Sementara sektor sosial budaya turut mendorong pencegahan gizi buruk dan anak putus sekolah,” papar Irvan.

Untuk memastikan keberlanjutan program, Pemkot Surabaya telah menurunkan 6.600 ASN pendamping di tiap RT dan RW.

Mereka bertugas memverifikasi laporan, memberikan rekomendasi, serta mendampingi perangkat daerah dalam menjalankan tindak lanjut di empat sektor utama tersebut.(r7/pt)

Bersambung…

Pos terkait