
Surabaya, (DOC) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Gunung Arjuno dilaporkan terus meluas.
Kondisi musim kemarau ekstrem tahun ini dinilai jauh lebih parah dibandingkan dengan kejadian karhutla pada tahun 2024 lalu.
Dari kejauhan, kobaran api tampak memanjang membentuk garis tajam di area puncak gunung, sementara asap tebal membubung tinggi dan menyelimuti kawasan lereng.
Dampak kebakaran bahkan nyaris menghanguskan Situs Candi Sepilar yang berada di jalur Gunung Ringgit, bagian dari Kompleks Gunung Arjuno.
Api sempat menjalar hingga radius sekitar 10 meter dari situs bersejarah tersebut. Beruntung, belasan relawan Desa Candi Sepilar bergerak cepat dan bergotong royong memadamkan kobaran api hingga berhasil dikendalikan.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengakui bahwa penanganan karhutla di lapangan menghadapi tantangan berat akibat faktor cuaca ekstrem dan medan yang sulit.
“API berada di ketinggian di atas 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga petugas sangat sulit menjangkau titik api. Karhutla tahun ini memang lebih parah karena didorong musim kering ekstrem,” ujar Emil.
Emil menjelaskan, pengelolaan kawasan hutan di wilayah tersebut terbagi ke dalam tiga kewenangan, yakni Taman Nasional di bawah Kementerian Kehutanan, Perum Perhutani, serta Taman Hutan Raya (Tahura) yang dikelola oleh Pemprov Jatim.
Untuk mengatasi ancaman yang kian membesar, Pemprov Jatim memangkas sistem penanganan ad-hoc dan membentuk tim permanen.
Khusus di area Tahura Raden Soerjo Gunung Arjuno, Pemprov mengoptimalkan 53 personel Manggala Agni dengan dibantu puluhan personel dari Dinas Kehutanan Jawa Timur.
Langkah strategis juga disesuaikan mengingat helikopter pemadam (water bombing) milik pemerintah pusat saat ini sedang difokuskan untuk menangani karhutla skala nasional di daerah lain.
“Fokus utama petugas saat ini adalah pembuatan sekat bakar semaksimal mungkin di titik-titik yang bisa dijangkau. Ini dilakukan agar kobaran api tidak meluas dan menyeberang ke kawasan hutan lainnya,” pungkas Emil.




