Limbah Kambing Disulap Jadi Peluang Ekonomi

Limbah Kambing Disulap Jadi Peluang Ekonomi

Sidoarjo,(DOC) – Limbah kotoran kambing yang selama ini kerap menjadi sumber bau dan pencemaran lingkungan kini bertransformasi menjadi peluang ekonomi baru. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat, Telkom University Kampus Surabaya menghadirkan inovasi pengolahan limbah ternak kambing berbasis teknologi Internet of Things (IoT) di Desa Sarirogo.

Bacaan Lainnya

Program ini di rancang untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yakni pengelolaan limbah ternak yang ramah lingkungan serta peningkatan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa. Kotoran kambing yang sebelumnya hanya di tumpuk dan berpotensi mencemari lingkungan kini di olah menjadi pupuk organik bernilai guna tinggi melalui proses fermentasi berbasis teknologi.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Telkom University Kampus Surabaya menjelaskan, pemanfaatan teknologi IoT memungkinkan proses produksi pupuk berjalan lebih terkontrol dan konsisten. Sensor suhu dan kelembapan di pasang pada alat fermentasi untuk memantau proses secara real time.

“Dengan dukungan IoT, kualitas fermentasi dapat di jaga lebih stabil. Prosesnya juga lebih mudah di pantau dan di replikasi oleh masyarakat, sehingga produksi pupuk dapat di lakukan secara berkelanjutan,” ujarnya, Jumat (9/1).

Kegiatan pengabdian ini di laksanakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Telkom University Direktorat Kampus Surabaya dengan melibatkan langsung kelompok peternak kambing dan masyarakat Desa Sarirogo. Sejak tahap awal, warga berperan aktif mulai dari penyediaan bahan baku, pelatihan pengolahan limbah, hingga pengelolaan produksi pupuk secara mandiri.

Desa Sarirogo di pilih sebagai lokasi kegiatan karena mengalami peningkatan populasi ternak kambing yang cukup signifikan. Data menunjukkan, jumlah kambing di desa tersebut meningkat dari sekitar 80 ekor pada 2023 menjadi sekitar 140 ekor pada 2024. Peningkatan ini berdampak positif terhadap pendapatan peternak, namun juga memicu lonjakan volume limbah organik yang perlu di kelola secara bijak.

Baca Juga:  Reklame Roboh Timpa Jaringan Listrik di Sidoarjo, PLN Turunkan 63 Personel Lakukan Pemulihan

Survei Lapangan

Program pengabdian mulai di implementasikan sejak Mei 2025, di awali dengan survei lapangan dan observasi kebutuhan mitra pada 9 Mei 2025. Saat ini, kegiatan telah memasuki tahap pembuatan dan perakitan alat fermentasi pupuk berbasis IoT, sekaligus persiapan integrasi sistem pemantauan digital.

Manfaat program ini di rasakan langsung oleh para peternak. Salah seorang peternak kambing Desa Sarirogo mengaku terbantu dengan adanya inovasi tersebut.

“Biasanya kotoran hanya kami tumpuk dan baunya mengganggu. Sekarang bisa di olah jadi pupuk, lingkungan lebih bersih dan ada tambahan penghasilan,” tuturnya.

Proses pengolahan pupuk organik di lakukan secara bertahap, mulai dari pengumpulan kotoran kambing, fermentasi menggunakan alat berbasis IoT, pengeringan, penggilingan, hingga proses granulasi. Seluruh rangkaian produksi di sertai pelatihan dan pendampingan agar masyarakat mampu mengoperasikan sistem secara mandiri setelah program selesai.

Selain berdampak pada lingkungan dan ekonomi lokal, program ini juga sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini mendukung SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 8 terkait penciptaan peluang usaha dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 dalam penerapan inovasi teknologi di tingkat desa, serta SDG 13 melalui upaya pengurangan pencemaran lingkungan.

Melalui inovasi teknologi tepat guna ini, Telkom University berharap Desa Sarirogo dapat berkembang menjadi contoh desa mandiri dalam pengelolaan limbah ternak berbasis teknologi, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat dan menjaga keberlanjutan lingkungan secara berkelanjutan. (r6)

Pos terkait